"SILAKAN Ente masuk kamar. Silakan coba!" Alex mempersilakanku masuk ke sebuah ruangan yang gelap gulita. Si kakek mengikuti dan duduk di hadapanku. Di dalam kamar tercium bau kemenyan yang menusuk hidung. Aku duduk bersimpuh sambil berhadap-hadapan dengan si kakek yang berjubah itu. Bagaimanakah cerita Abun setelah dipertemukan dengan dukun oleh Alex? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.
"PEJAMKAN mata! Jangan membuka mata sebelum ada aba-aba," kata si kakek dukun. Selama sekitar 15 menit aku memejamkan mata. Ingatanku melayang tak karuan. Tampak di hadapanku tumpukan uang ratusan ribu rupiah. Kemudian tiba-tiba terasa seperti banyak orang berdatangan dan saling berebut mengambil uang. Dalam sekejap, tumpukan uang itu ludes. Si Kakek memberi aba-aba. Aku pun membuka mata. Listrik di kamar terang benderang.
"Nah inginkah punya uang sebanyak itu, seperti yang Anda lihat dalam bayangan tadi?" tanya si kakek sambil tersenyum.
"Siapa yang tak mau uang sebanyak itu, Kek!" jawabku.
Si kakek lalu meminta uang padaku. Aku pun memberinya Rp 50.000. Aku kembali memejamkan mata. Setelah itu di hadapanku terlihat tumpukan uang. Aku menghitungnya, jumlahnya Rp 5 juta. Kemudian si kakek mengambil sebanyak Rp 500 ribu untuk dibelanjakan. "Silakan belanjakan untuk membuktikan, apakah uang tersebut palsu atau tidak," katanya.
Aku meninggalkan kamar dan duduk di kursi tamu. Aku kaget karena istriku tak ada di sana. Kata Alex istriku tengah di kamar yang lain untuk melakukan ritual dengan dibimbing istri si kakek.
"Kenapa enggak bilang? Kalau bisa, istriku jangan ikut-ikutan. Nanti kalau aku sudah berhasil, baru istri atau bila perlu semua anak-anak ikut mencobanya," kataku.
Tak lama istriku keluar dari kamar, lalu duduk di sampingku. Ia memberi isyarat agar kami segera pulang. Alex mengatakan dirinya sudah berkali-kali melakukan ritual di kamar itu. Ia juga memberikan uang pada si kakek dalam jumlah yang cukup besar. Namun sampai sekarang belum ada hasilnya. Katanya tinggal menunggu beberapa hari lagi, tepatnya pada saat bulan purnama. Katanya jika aku dan istriku percaya dan sering melakukan ritual itu, kami akan kaya.
"Aku baru akan melakukan ritual ini bila Anda sudah benar-benar berhasil, Lex," kata istriku.
"Jangan begitu. Bila sudah masuk kamar, berarti Anda sudah masuk anggota bisnis di bawah asuhan si kakek," katanya.
Kami pun pulang. Di jalan istriku berkali-kali mengingatkan agar jangan sampai terbujuk rayuan si kakek. Menurutnya apa yang aku lakukan sangat bertentangan dengan syariat Islam dan melanggar aturan hukum. Aku tak langsung menjawab. Maksudnya ingin mencoba dulu, apakah uang lembaran Rp 50 ribu yang ada di tanganku ini asli atau tidak. Jika ternyata palsu, aku akan menolaknya. (bersambung)**
Monday, 7 December 2009
Terbius Bujuk Rayu Setan (2) Istriku Mengingatkan untuk Tidak Melakukan Ritual
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment