Monday, 7 December 2009

Terbius Bujuk Rayu Setan (1) Mengenal Dukun Lewat Teman Sesama Pengusaha

ABUN (bukan nama sebenarnya), warga di salah satu kawasan perumahan elite di Kota Depok, dikenal sebagai pekerja keras dan ulet di sebuah perusahaan. Karena prestasinya itu, ia mampu hidup mapan. Sayang ia terlibat praktik perdukunan yang menyesatkan, sehingga dalam waktu singkat, harta bendanya ludes disita perusahaan. Rumah-tangganya pun berantakan. Bagaimana perjalanan hidup Abun? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.

KETIKA sedang beristirahat di kantin setelah bermain golf di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, temanku Alex mengatakan, ada peluang bisnis baru. Tak perlu repot-repot mengeluarkan uang banyak, dalam tempo singkat, modal akan kembali dengan hasil berlipat ganda.

"Bila punya modal sejuta, maka akan berubah menjadi semiliar. Syaratnya pun mudah sekali. Tidak ada bisnis sejitu ini di dunia," rayu Alex yang dalam kesehariannya bergelut di bidang pengembangan pembangunan rumah elite di Jakarta.

Teman Alex yang lain pun sudah mencoba. Katanya dulu ia hanya berjualan es kopyor di emperan kaki lima. Tapi setelah terjun ke bisnis itu, sekarang sang teman jadi miliuner. Punya rumah mewah, peternakan kambing dan sapi, dan tak terhitung berapa tabungannya di bank.

Alex menantang, mana yang lebih baik, terus melakukan bisnis developer yang selama ini digeluti atau berbisnis seperti temannya dengan hasil meyakinkan. Tak perlu capek-capek melobi para pejabat, mencari rekanan usaha, membebaskan tanah, pinjam uang ke bank, dan lain sebagainya.

"Makanya kalau Ente tertarik, kapan-kapan kita datang ke rumah teman saya itu. Tolong istri Ente bawa juga," katanya.

"Bisnis apa? Kok enak sekali rupanya?" tanyaku.

"Nanti saja kita bicara di rumah teman saya. Kalau sekarang saya paparkan, khawatir Ente salah duga. Pokoknya kapan ada waktu bertamu ke sana?" katanya lagi.

Setelah bermain golf dan pulang ke rumah, di perjalanan aku berpikir, apakah bisnis menggiurkan seperti yang dipaparkan Alex itu benar adanya. Masak iya tanpa menguras tenaga, modal bisa menghasilkan miliaran rupiah. Tidak masuk akal. Apakah mungkin yang dimaksudnya itu bisnis yang belakangan ini tersiar, penggandaan uang?
http://klik-galamedia.com

"Tapi tidak mungkin. Alex seorang profesional, insinyur teknik yang dikenal dengan rasionalitasnya. Masak iya dia tergiur bisnis yang di luar jangkauan akal sehat," kataku dalam hati.

Untuk memastikan keraguanku, akhirnya aku dan istri mencoba mendatangi rumah teman Alex itu. Kamis sore Alex menelepon. Dia mengajak kami ke sana. Kami ditunggu di kawasan Bekasi Timur. Dia memintaku datang setelah magrib. Aku bersama istri lalu berangkat menuju alamat yang diberikan. Tepat pada waktunya, Alex sudah menunggu di depan rumah dan mengajak kami masuk.

Di ruang tamu, tampak seorang kakek tua duduk di kursi. Jemari kanannya menggenggam untaian tasbih. Mulutnya komat-kamit sambil sesekali memejamkan mata. Tumbuh rasa curiga, jangan-jangan aku akan terperangkap dengan si kakek tua ini. Istriku pun ketakutan dan berkali-kali mencubit tanganku. (bersambung)**

0 comments:

Post a Comment