By Abu Fahad Abdullah
Jengkol...hampir semua masyarakat Indonesia tahu dan mengenal JENGKOL, terutama masyarakat Jawa dan Sunda. Begitu juga dengan Mawar,gadis bahenol dan cantik dari salah satu dusun/desa yang ada di Jawa Barat. Bagi Mawar jengkol adalah sesuatu yang istimewa. Rasanya tidak enak jika Mawar tidak makan jengkol satu hari. Pagi, siang dan malam Mawar selalu makan jengkol, baik itu sebagai lalapan ataupun cemilan seperti semur jengkol.
Suatu hari Mawar sehabis makan semur jengkol, Mawar pergi ke pasar sendirian dengan berjalan kaki. Ketika Mawar melintas di kerumunan orang, semua lelaki terpesona melihat kecantikan Mawar, tapi banyak juga dari lelaki yang bergumam....sayang gadis cantik suka jengkol...!!! begitu kira-kira kebanyakan lelaki yang melihat Mawar.
Ketika Mawar sampai di tempat sepi, Mawar terkejut dan kaget seketika karena Mawar di hadang oleh Kampret dan Benjol, lelaki berandalan. Tak banyak bicara lelaki berandalan tersebut mendekap mulut Mawar dan menyeret Mawar ke dalam mobil lelaki berandalan tersebut. Mereka menyekap mulut Mawar dengan lakban agar Mawar tidak bisa berteriak.
Mawar dibawa Kampret dan Benjol ke suatu tempat yang sepi. Mereka berusaha untuk menodai/memperkosa Mawar. Salah satu dari mereka berkata ....Bang Kampret...kayanya engga enak kalau mulut Mawar masih ditutup lakban...kita lepas aja lakbannya bang biar asyik....." kata si Benjol. Kampret pun setuju untuk membuka lakban dari mulut Mawar. Begitu lakban dilepas....Mawar seketika menjerit sebisanya....... Kampret dan Benjol terkejut bukan kepalang, bukan karena mereka takut karena Mawar menjerit, tapi mereka merasa pusing dan mual mencium bau jengkol yang keluar dari mulut Mawar. Disaat Kampret dan Benjol lengah, Mawar pun berusaha menyelamatkan diri, lari secepat mungkin. Beruntung di tengah jalan Mawar bertemu dengan para petani yang baru pulang dari sawah, Mawar pun minta tolong sama mereka. Akhirnya, mereka, para petani berlarian mencari Kampret dan Benjol. Kampret dan Benjol masih mual-mual dan pusing....dan mereka pun jadi bulan-bulanan para petani yang geram dengan tingkah laku Kampret dan Benjol.......
Read More ..
Monday, 27 February 2012
Wednesday, 8 February 2012
Sunni-Syiah: Perbedaan Aqidah!
oleh: Bahrul Ulum
SELAMA ini banyak tokoh yang menggembar-gemborkan bahwa perbedaan antara Sunni dengan Syiah terletak pada masalah madzhab. Ini pula yang dimuat oleh Harian Republika, Kamis (09/02/2012) dalam sebuah tulisan (Iklan terselubung) dengan judul, "MELAWAN POLITIK ADU DOMBA DENGAN PERSATUAN UMMAT).
Benarkah Sunni Syiah hanya berbeda masalah madhzab?
Untuk menjawab hal ini tentu kita perlu menilisik keyakinan kaum Syiah terhadap beberapa persoalan. Keyakinan mereka inilah yang dipersoalkan oleh jumhur ulama.
Di antara keyakinan sentral yang dikritisi oleh para ulama adalah masalah Imamiyah.
Ulama Sunni sepakat bahwa masalah Imamah terkait dengan keduniaan. Ia bukan bagian dari persoalan yang penting dalam urusan hukum Islam, sehingga ia bersifat fardhu kifayah.
Dalam hal ini Imam Al-Mawardzi berkata; “Apabila telah pasti kewajiban adanya sebuah imammah, maka hukumnya menjadi fardhu kifayah, sebagaimana hukum jihad dan menuntut ilmu.” [Abu Al-Hasan Ali Ibnu Muhammad Habib Al-Mawardi, Ahkamu Al-Sultaniyah wa Al-Wilayatu Ad-Dhiniyah, Al Firdaus, Beirut, 1989 M, Jild. 1 hal. 4]
Berdasar hal ini Sunni berpendapat bahwa proses menangani dan membentuk Imamah terletak kepada umat. Pemilihan seseorang Imam dilakukan oleh dewan pemilihan (ahl al-ikhtiyar/ahlul aqdi wal halli) dan ditentukan para kandidat pemimpin. Orang-orang yang menjabat dalam dewan pemilihan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu, pertama, adil yang mencakup segala aspeknya. Kedua, memiliki ilmu pengetahuan yang bisa dipergunakan untuk mengetahui siapa yang betul-betul berhak untuk menjabat sebagai pemimpin sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Ketiga, memiliki pandangan yang luas dan kebijaksanaan agar betul-betul bisa memiliki siapa yang paling layak untuk menjabat sebagai pemimpin, yang paling memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengatur kemaslahatan umat. Karena itulah, pemimpin yang baik adalah seorang warga negara setempat yang betul-betul mengenal karakter dan kondisi negaranya.
Sedang Syiah Itsna Asy’ariyah memahami istilah Imamah atau yang juga disebut wilayah sebagai bagian dari ushuluddin, atau salah satu rukun dari rukun agama.
Mereka meyakini Imamah sebagai ajaran primer dalam teologi dan ideologi, serta berposisi sebagai doktrin sentral yang mutlak diyakini penganutnya. Karena itu Imamah di kalangan Syiah sudah menjadi doktrin dan bagian dari rukun iman dan Islam yang penting.
Dalam al-Kafi, al-Kulaini menulis riwayat yang diafiliasikan kepada Abu Ja'far sebagai berikut; "Islam didasari atas lima perkara yaitu shalat, zakat, haji, jihad dan wilayah. Tidak ada suatu pun yang diserukan sebagaimana diserukan wilayah." [Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi, al-Kafi, Darul Kutub al-Islamiyyah, Teheran, juz 2 hal. 18]
Imamah menurut Syiah adalah pengakuan terhadap kepemimpinan Ali bin Thalib dan keturunannya. Sebagaimana dikutip Muhammad Jawad al-Amili dalam “Miftakhul Karomati fi Syarh Qowaid Al-A’lamah”, Mu’asasah Nasrul Islam Juz 2 hal.80, mengatakan:
“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.”
Al-Kulaini dalam kitabnya juga menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut: “Dari Abi Ja’far berkata:“…Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” [Al-Kulaini Furu’ al-Kafi, 1/34]
Berdasar pemahaman ini, Syiah mendudukkan Imamah pada urutan ke tiga dari rukun iman. Bahkan ajaran ini merupakan bagian paling mendasar yang seakan melebihi doktrin tauhid. Bangunan teologi mereka seluruhnya diperkuat dengan konsep ini.
Konsekwensi dari pemahaman ini yaitu amal setiap muslim akan sia-sia jika menolak wilayah atau Imamah Ahlul Bait. Segala amal perbuatannya tidak akan diterima Allah meskipun ia bersujud hingga patah tulang lehernya, jika tidak meyakini keimamamahan Imam Ali dan Ahlul Bait.
Dalam hal ini Al Kulaini menisbahkan sebuah riwayat dari Imam Ali Bin Thalib yang berkata:
“Tidak ada kebaikan di dunia kecuali satu dari dua orang, yaitu seseorang yang selalu bertambah kebaikannya setiap hari dan seseorang yang menjelang kematiannya bertobat. Dan dimatikan dalam keadaan bertobat selalu bertaubat. Demi Allah sekiranya ia sujud hingga patah tulang lehernya, tidak akan diterima amalnya kecuali mengakui wilayah ahlul bait. [Al-Kulaini, Furu’u Al Kafi, Juz VIII, hal.128]
Atas dasar inilah kemudian Syiah tidak segan untuk mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan Imam-imam keturunannya. Al-Majlisi mengutip perkataan Al-Mufid dalam kitab Al-Masail yang menjelaskan tentang kesepakatan kaum Syi’ah dalam mengkafirkan umat Islam yang mengingkari Imam :
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para Imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.”
Al-Majlisi menukil kitab “Kanzul karaji” hal 112, yang berbunyi:
“Siapa yg mengingkari mereka (Imam 12) atau meragukan mereka, atau mengingkari salah satu diantara mereka atau meragukan, atau membantu musuh-musuh mereka, atau salah satu diantara musuh-musuh mereka, maka dia adalah orang yang sesat lagi celaka, bahkan orang yang kafir.”
Bahkan Syiah tak segan-segan menghalalkan darah orang di luar kelompok mereka. Ulama Syiah, Yusuf Al-Bahrani berkata, “Sesungguhnya pemutlakan muslim terhadap nashib (baca: ahlussunnah) bahwasannya tidak diperbolehkan mengambil hartanya dengan sebab Islam (telah melarangnya), maka itu telah menyelisihi apa yang dipahami oleh kelompok yang benar (baca: Syiah Rafidhah) baik dulu maupun sekarang (salaf dan khalaf) tentang hukum kafirnya nashib, kenajisannya, dan diperbolehkannya mengambil hartanya, bahkan membunuhnya.” [Muhammad Baqir Al-Majlisi, Biharul Anwar, Mausu’a Al Wafa’, Beirut Libanon, Juz 23 hal. 391]
Sikap mereka seperti itu karena keyakinan terhadap Imamah merupakan sesuatu yang mutlak sehingga barangsiapa yang mengingkarinya berarti kafir dan darahnya halal untuk dibunuh.
Model keyakinan seperti ini menjadi sumber epistemologi yang penting dalam bangunan keyakinan Syiah. Menurut mereka, siapapun yang beriman kepada Allah namun tidak beriman terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para Imam keturunan beliau, maka hukumnya sama dengan musyrik.
Ini karena menurut mereka, Allah yang menetapkan dan memilih para Imam, sehingga iman kepada para Imam adalah sebuah keharusan. Karena itu barangsiapa yang tidak mengakui Imamah maka matinya dalam kondisi jahiliyah. Dalam hal ini al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi mengatakan:
“Barang siapa mati tidak mengetahui imam zamannya maka matinya mati jahiliyah.” [Al Kulaini, Al Kafi Juz I hal. 377]
Doktrin ini oleh al-Kulaini diakui berada di atas nubuwwah yang disebut sebagai "perjanjian yang mereka tetapkan dengan para Nabi", sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis kitab Al Basha'ir.
“Kami mendengar dari Al Hasan bin 'Ali bin An-Nu'man, ia mendengar dari Yahya bin Abu Zakariya bin 'Amr Az Zayyat yang mengatakan: "Aku mendengar dari ayahku dan ia mendengar dari Muhammad bin Sama'ah yang mendengar dari Faidh bin Abi Syaibah, berasal dari Muhammad bin Muslim yang mengatakan, bahwasanya ia mendengar Abu Ja'far berkata: Allah tabaraka wata'ala telah menetapkan perjanjian dengan para Nabi mengenai wilayah (keimaman)'Ali dan telah pula mengambil janji dari para Nabi tentang wilayah (keimaman) Ali itu." [Muhammad Abu Ja’far Ibnu Hasan Ibnu Faruh As-Shofar Al-Qumi, Basha'irud Darajat, Mansurat Maktabah Ayatullah Al-Udmah Al-Murasinajafi, cet. Iran Lama, 1928 H Bab IX, Jld II, hal. 73].
Demikian juga para Malaikat menurut Syiah juga telah mengambil janji atas wilayah. Penulis Al Basha'ir mengemukakan sebagai berikut:
“Kami mendengar dari Ahmad bin Muhammad yang mendengar dari Al Hasan bin 'Ali bin Fadhdhal, ia mendengar dari Muhammad bin Fudhail yagn mendengar dari Abush Shabah Al Kinaniy, bahwasanya Abu Ja'far berkata: "Demi Allah, di langit terdapat tujuh puluh jenis malaikat. Seandainya semua penduduk bumi berkumpul kemudian menghitung jumlah malaikat dari masing-masing jenis, mereka tidak akan dapat menghitungnya. Semua malaikat itu mempercayai wilayah (keimaman) kami.”(hidayatullah.com)
Read More ..
SELAMA ini banyak tokoh yang menggembar-gemborkan bahwa perbedaan antara Sunni dengan Syiah terletak pada masalah madzhab. Ini pula yang dimuat oleh Harian Republika, Kamis (09/02/2012) dalam sebuah tulisan (Iklan terselubung) dengan judul, "MELAWAN POLITIK ADU DOMBA DENGAN PERSATUAN UMMAT).
Benarkah Sunni Syiah hanya berbeda masalah madhzab?
Untuk menjawab hal ini tentu kita perlu menilisik keyakinan kaum Syiah terhadap beberapa persoalan. Keyakinan mereka inilah yang dipersoalkan oleh jumhur ulama.
Di antara keyakinan sentral yang dikritisi oleh para ulama adalah masalah Imamiyah.
Ulama Sunni sepakat bahwa masalah Imamah terkait dengan keduniaan. Ia bukan bagian dari persoalan yang penting dalam urusan hukum Islam, sehingga ia bersifat fardhu kifayah.
Dalam hal ini Imam Al-Mawardzi berkata; “Apabila telah pasti kewajiban adanya sebuah imammah, maka hukumnya menjadi fardhu kifayah, sebagaimana hukum jihad dan menuntut ilmu.” [Abu Al-Hasan Ali Ibnu Muhammad Habib Al-Mawardi, Ahkamu Al-Sultaniyah wa Al-Wilayatu Ad-Dhiniyah, Al Firdaus, Beirut, 1989 M, Jild. 1 hal. 4]
Berdasar hal ini Sunni berpendapat bahwa proses menangani dan membentuk Imamah terletak kepada umat. Pemilihan seseorang Imam dilakukan oleh dewan pemilihan (ahl al-ikhtiyar/ahlul aqdi wal halli) dan ditentukan para kandidat pemimpin. Orang-orang yang menjabat dalam dewan pemilihan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu, pertama, adil yang mencakup segala aspeknya. Kedua, memiliki ilmu pengetahuan yang bisa dipergunakan untuk mengetahui siapa yang betul-betul berhak untuk menjabat sebagai pemimpin sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Ketiga, memiliki pandangan yang luas dan kebijaksanaan agar betul-betul bisa memiliki siapa yang paling layak untuk menjabat sebagai pemimpin, yang paling memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengatur kemaslahatan umat. Karena itulah, pemimpin yang baik adalah seorang warga negara setempat yang betul-betul mengenal karakter dan kondisi negaranya.
Sedang Syiah Itsna Asy’ariyah memahami istilah Imamah atau yang juga disebut wilayah sebagai bagian dari ushuluddin, atau salah satu rukun dari rukun agama.
Mereka meyakini Imamah sebagai ajaran primer dalam teologi dan ideologi, serta berposisi sebagai doktrin sentral yang mutlak diyakini penganutnya. Karena itu Imamah di kalangan Syiah sudah menjadi doktrin dan bagian dari rukun iman dan Islam yang penting.
Dalam al-Kafi, al-Kulaini menulis riwayat yang diafiliasikan kepada Abu Ja'far sebagai berikut; "Islam didasari atas lima perkara yaitu shalat, zakat, haji, jihad dan wilayah. Tidak ada suatu pun yang diserukan sebagaimana diserukan wilayah." [Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi, al-Kafi, Darul Kutub al-Islamiyyah, Teheran, juz 2 hal. 18]
Imamah menurut Syiah adalah pengakuan terhadap kepemimpinan Ali bin Thalib dan keturunannya. Sebagaimana dikutip Muhammad Jawad al-Amili dalam “Miftakhul Karomati fi Syarh Qowaid Al-A’lamah”, Mu’asasah Nasrul Islam Juz 2 hal.80, mengatakan:
“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.”
Al-Kulaini dalam kitabnya juga menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut: “Dari Abi Ja’far berkata:“…Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” [Al-Kulaini Furu’ al-Kafi, 1/34]
Berdasar pemahaman ini, Syiah mendudukkan Imamah pada urutan ke tiga dari rukun iman. Bahkan ajaran ini merupakan bagian paling mendasar yang seakan melebihi doktrin tauhid. Bangunan teologi mereka seluruhnya diperkuat dengan konsep ini.
Konsekwensi dari pemahaman ini yaitu amal setiap muslim akan sia-sia jika menolak wilayah atau Imamah Ahlul Bait. Segala amal perbuatannya tidak akan diterima Allah meskipun ia bersujud hingga patah tulang lehernya, jika tidak meyakini keimamamahan Imam Ali dan Ahlul Bait.
Dalam hal ini Al Kulaini menisbahkan sebuah riwayat dari Imam Ali Bin Thalib yang berkata:
“Tidak ada kebaikan di dunia kecuali satu dari dua orang, yaitu seseorang yang selalu bertambah kebaikannya setiap hari dan seseorang yang menjelang kematiannya bertobat. Dan dimatikan dalam keadaan bertobat selalu bertaubat. Demi Allah sekiranya ia sujud hingga patah tulang lehernya, tidak akan diterima amalnya kecuali mengakui wilayah ahlul bait. [Al-Kulaini, Furu’u Al Kafi, Juz VIII, hal.128]
Atas dasar inilah kemudian Syiah tidak segan untuk mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan Imam-imam keturunannya. Al-Majlisi mengutip perkataan Al-Mufid dalam kitab Al-Masail yang menjelaskan tentang kesepakatan kaum Syi’ah dalam mengkafirkan umat Islam yang mengingkari Imam :
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para Imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.”
Al-Majlisi menukil kitab “Kanzul karaji” hal 112, yang berbunyi:
“Siapa yg mengingkari mereka (Imam 12) atau meragukan mereka, atau mengingkari salah satu diantara mereka atau meragukan, atau membantu musuh-musuh mereka, atau salah satu diantara musuh-musuh mereka, maka dia adalah orang yang sesat lagi celaka, bahkan orang yang kafir.”
Bahkan Syiah tak segan-segan menghalalkan darah orang di luar kelompok mereka. Ulama Syiah, Yusuf Al-Bahrani berkata, “Sesungguhnya pemutlakan muslim terhadap nashib (baca: ahlussunnah) bahwasannya tidak diperbolehkan mengambil hartanya dengan sebab Islam (telah melarangnya), maka itu telah menyelisihi apa yang dipahami oleh kelompok yang benar (baca: Syiah Rafidhah) baik dulu maupun sekarang (salaf dan khalaf) tentang hukum kafirnya nashib, kenajisannya, dan diperbolehkannya mengambil hartanya, bahkan membunuhnya.” [Muhammad Baqir Al-Majlisi, Biharul Anwar, Mausu’a Al Wafa’, Beirut Libanon, Juz 23 hal. 391]
Sikap mereka seperti itu karena keyakinan terhadap Imamah merupakan sesuatu yang mutlak sehingga barangsiapa yang mengingkarinya berarti kafir dan darahnya halal untuk dibunuh.
Model keyakinan seperti ini menjadi sumber epistemologi yang penting dalam bangunan keyakinan Syiah. Menurut mereka, siapapun yang beriman kepada Allah namun tidak beriman terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para Imam keturunan beliau, maka hukumnya sama dengan musyrik.
Ini karena menurut mereka, Allah yang menetapkan dan memilih para Imam, sehingga iman kepada para Imam adalah sebuah keharusan. Karena itu barangsiapa yang tidak mengakui Imamah maka matinya dalam kondisi jahiliyah. Dalam hal ini al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi mengatakan:
“Barang siapa mati tidak mengetahui imam zamannya maka matinya mati jahiliyah.” [Al Kulaini, Al Kafi Juz I hal. 377]
Doktrin ini oleh al-Kulaini diakui berada di atas nubuwwah yang disebut sebagai "perjanjian yang mereka tetapkan dengan para Nabi", sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis kitab Al Basha'ir.
“Kami mendengar dari Al Hasan bin 'Ali bin An-Nu'man, ia mendengar dari Yahya bin Abu Zakariya bin 'Amr Az Zayyat yang mengatakan: "Aku mendengar dari ayahku dan ia mendengar dari Muhammad bin Sama'ah yang mendengar dari Faidh bin Abi Syaibah, berasal dari Muhammad bin Muslim yang mengatakan, bahwasanya ia mendengar Abu Ja'far berkata: Allah tabaraka wata'ala telah menetapkan perjanjian dengan para Nabi mengenai wilayah (keimaman)'Ali dan telah pula mengambil janji dari para Nabi tentang wilayah (keimaman) Ali itu." [Muhammad Abu Ja’far Ibnu Hasan Ibnu Faruh As-Shofar Al-Qumi, Basha'irud Darajat, Mansurat Maktabah Ayatullah Al-Udmah Al-Murasinajafi, cet. Iran Lama, 1928 H Bab IX, Jld II, hal. 73].
Demikian juga para Malaikat menurut Syiah juga telah mengambil janji atas wilayah. Penulis Al Basha'ir mengemukakan sebagai berikut:
“Kami mendengar dari Ahmad bin Muhammad yang mendengar dari Al Hasan bin 'Ali bin Fadhdhal, ia mendengar dari Muhammad bin Fudhail yagn mendengar dari Abush Shabah Al Kinaniy, bahwasanya Abu Ja'far berkata: "Demi Allah, di langit terdapat tujuh puluh jenis malaikat. Seandainya semua penduduk bumi berkumpul kemudian menghitung jumlah malaikat dari masing-masing jenis, mereka tidak akan dapat menghitungnya. Semua malaikat itu mempercayai wilayah (keimaman) kami.”(hidayatullah.com)
Read More ..
Tuesday, 7 February 2012
Empat Serangan Syi’ah kepada Umat Islam Indonesia
SETIDAKNYA, ada empat cara paham sesat syi’ah menyerang umat Islam Indonesia. Pertama, melalui penetrasi budaya seperti Tabot atau Tabuik. Kedua, melalui penetrasi nikah mut’ah. Ketiga, penetrasi intelektual antara lain melalui lulusan Universitas Qom, Iran. Keempat, melalui penyelundupan narkoba.
Penetrasi Budaya
Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Pariaman (Sumatera Barat) lebih dikenal sebagai festival budaya lokal ketimbang sebagai ritus penghormatan atas wafatnya Husen ra di Karbala. Pada mulanya, Tabot atau Tabuik memang dijadikan media dasar untuk menyelundupkan paham sesat syi’ah yang dibawa oleh para serdadu bayaran asal India Selatan (Madras dan Bengali) yang berpaham syi’ah. Para serdadu bayaran ini, disebut sepoy atau sipahi atau sipai, yang tugas utamanya adalah melayani kepentingan bangsa Eropa (termasuk Inggris) dalam menjalankan misi kolonialisasi bangsa-bangsa lain termasuk Indonesia.
Pada tahun 1718, serdadu bayaran berpaham syi’ah ini dibawa kolonialis Inggris ke Bengkulu dengan tujuan membangun Benteng Marlborough atau Fort Marlborough. Tidak hanya serdadu bayaran dari India Selatan yang dibawa, tetapi juga sejumlah pekerja asal India Selatan yang dipekerjakan untuk mempercepat proses pembuatan Benteng Marlborough. Dan benteng ini merupakan basis serdadu bayaran (sipai) berpaham syi’ah, yang bekerja untuk mengamankan kolonialis Inggris dalam mengeruk kekayaan alam bangsa Indonesia, terutama lada.
Tradisi Tabot di Bengkulu demikian mulus disosialisasikan para serdadu bayaran karena sejak 23 tahun sebelumnya, Tabot sudah mulai dikenalkan oleh Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo pada tahun 1685. Pada tahun yang sama (1685), kolonialis Inggris membangun kota Bencoolen yang kelak menjadi ibukota Provinsi Bengkulu. Kota Bencoolen kini dalam lidah kita menjadi Bengkulu.
Anak keturunan Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo yang menikah dengan gadis Bengkulu, ditambah para keturunan serdadu bayaran yang menikah dengan perempuan lokal, begitu juga dengan para pekerja yang didatangkan dari India Selatan untuk membangun Benteng Marlbrough, kemudian membentuk komunitas khas yang diberi nama Sipai.
Khusus keturunan Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo, masyarakat juga mengenal mereka dengan sebutan khusus yaitu Keluarga Tabot. Tradisi berbasis paham sesat syi’ah ini kemudian masuk ke Pariaman pada tahun 1831, juga dibawa oleh serdadu bayaran asal India yang bekerja untuk kolonialis Inggris.
Kalau toh tradisi berbau syi’ah ini masih eksis hingga kini, itu karena faktor fulus, pemerintah daerah setempat menjadikannya objek wisata lokal, dan menyediakan anggaran miliaran rupiah. Festival Tabot 2010 di Bengkulu, menghabiskan dana Rp 1,2 milyar. Di Pariaman, pada April 2011 lalu dibangun dua unit Rumah Tabuik. Sumber dana pembuatan rumah tabuik berasal dari APBN (Rp 2,3 miliar) dan APBD Pariaman (Rp 1,71 miliar).
Dua unit rumah tabuik tersebut, masing-masing terletak di jalan Imam Bonjol. Satu unit lagi di jalan Syekh Burhanuddin, sebuah nama yang mengingatkan kita pada sosok pelopor Tabot Bengkulu pada 1685.
Kawin Kontrak
Menurut sebuah sumber, wabah kawin kontrak alias nikah mut’ah khas syi’ah sudah mulai merebak awal 1980, atau tak berapa lama pasca Revoulsi Syi’ah yang terjadi di Iran pada Januari 1978-Desember 1979.
Lokus penyebaran kawin kontrak alias nikah mut’ah ini konon bermula dari kawasan Desa Tugu, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, yang lebih populer dengan sebutan kawasan Puncak. Di kawasan ini ada sebuah pemukiman yang dinamakan Sampai, yang menjadi sentra pemasok wanita-wanita praktisi nikah mut’ah. Nama Sampai memang agak mirip dengan Sipai, nama sebuah komunitas keturunan Syi’ah di Bengkulu.
Praktik nikah mut’ah alias kawin kontrak ini, lebih sering terjadi antara warga lokal dengan pria berwajah timur tengah. Karena kawasan Puncak ini merupakan tujuan wisata, tidak hanya bagi turis lokal dari Jakarta, maka tradisi nikah mut’ah khas syi’ah yang dipraktekkan warga Sampai menjadi berbaur dengan praktik prostitusi yang dilakoni wanita-wanita dari daerah luar Sampai, bahkan ada yang dari Jakarta.
Nikah mut’ah alias kawin kontrak dan prostitusi memang ibarat saudara kembar. Mereka sukar dibedakan. Yang pasti, dalam perspektif syari’ah Islam, keduanya tergolong zina, jelas haram.
Moda (jenis, mode) kawin kontrak khas syi’ah ini kemudian juga berkembang ke kawasan Jawa Tengah, khususnya di Jepara, pusat industri mebel. Pelakunya, wanita lokal dengan pria bertampang bule. Motifnya, selain kesenangan juga untuk memuluskan bisnis. Pria bule warga negara asing tidak mendapat izin membeli sebidang tanah atau mendirikan usaha. Maka, dengan menikahi wanita lokal, pria bule ini selain bisa mendapatkan kepuasan juga bisa membeli sebidang tanah dan mendirikan perusahaan yang diatasnamakan wanita yang dinikahinya secara temporer.
Begitulah dampak kawin kontrak khas syi’ah, wanita-wanita kita dijadikan objek seks, dijadikan boneka untuk menguasai sebidang tanah, mendirikan sebuah perusahaan. Wanita-wanita kita direndahkan martabatnya. Sekaligus, mempermainkan Islam. Karena, para pria bule itu bersyahadat sekedar untuk memenuhi syarat agar bisa menjalani kawin kontrak, demi bisnis dan syahwat.
Penetrasi Intelektual
Penetrasi budaya paham sesat syi’ah melalui tabot atau tabuik, hanyalah salah satu cara saja di dalam menginjeksi racun akidah syi’ah ke dalam tubuh umat Islam Indonesia. Ada sejumlah tradisi khas syi’ah yang dipraktekkah umat Islam Indonesia, khususnya oleh komunitas praktisi bid’ah, yang kini dipimpin oleh Said Agil Siradj, salah seorang pendukung syi’ah yang konsisten. Secara kultural, praktisi bid’ah dan syi’ah memang compatible (cocok). Contohnya adalah tradisi milad dan khaul yang sering dipraktekkan komunitas penggemar bid’ah ini.
Bila penetrasi budaya terbukti berjalan lamban, maka tampaknya mereka menganggap perlu ada penetrasi yang berjalan cepat. Yaitu dengan jalan mencetak kader-kader intelektual pro syi’ah. Pasca Revolusi Syi’ah, terutama sejak 1981, deras mengalir beasiswa dari Iran bagi pemuda Indonesia yang mau bersekolah di Qum, Iran. Lulusan Qum ini kemudian mengembangkan syi’ah ke kampus-kampus dengan kedok Islamic Cultural Center (ICC).
Sebelumnya, kita hanya bisa menemukan segelintir nama populer, intelektual pro syi’ah. Misalnya, Umar Shihab (salah satu Ketua MUI Pusat), Jalaluddin Rakhmat (tokoh IJABI), Zulfan Lindani (keluaran FISIP UNAS Jakarta, mantan politisi PDI-P yang kini aktif di Nasdem), Haidar Bagir (lulusan ITB, mantan wartawan Republika, kini pemilik Penerbit Mizan).
Melalui sosok Umar Shihab, pembelaan terhadap Syi’ah sedemikian telanjang dan vulgar. Bahkan, Umar Shihab yang merupakan kakak kandung Quraish Shihab ini, berani menempuh jalan dusta untuk membela syi’ah, sebagaimana bisa dibaca melalui berbagai pemberitaan media massa. Lebih parah lagi, MUI belum berani tegas menerbitkan fatwa tentang kesesatan Syi’ah, antara lain akibat kegigihan Umar Shihab menentang terbitnya fatwa tersebut.
Dari fakta ini saja kita sudah mendapat bukti bahwa serangan syi’ah ke dalam institusi ulama sedemikian efektif. Sehingga, sekian banyak ulama yang ada di lembaga itu, meski mereka mengaku ahlussunnah dan membela akidah umat, ternyata keok hanya oleh seorang syi’ah yang sudah gaek sekalipun.
Bila Umar Shihab menyerang dari dalam MUI, dan para intelektual muda lulusan Qum menyerang dari dalam kampus, maka Jalaluddin Rakhmat menyerang dari luar melalui IJABI. Salah satu bukti keberhasilan IJABI terwakili oleh sosok Tajul Muluk yang gigih-berani mempertahankan syi’ah di tengah-tengah masyarakat Islam di Sampang, sehingga terjadi ledakan kemarahan pada 29 Desember 2011.
Masih ada satu lagi intelektual syi’ah yaitu Haidar Bagir (lulusan ITB) yang menyerang dengan pena. Haidar Bagir pemilik dan pendiri Mizan –perusahaan penerbitan yang relatif lebih muda dari, katakanlah GIP (Gema Insani Press)– ternyata mampu tumbuh sedemikian cepat menjadi salah satu penerbit papan atas, yang kini juga merambah dunia perfilman.
Nama-nama di atas adalah tokoh syi’ah yang kiprahnya kelihatan, dan berani. Masih banyak intelektual misionaris syi’ah yang belum berhasil diidentifikasi umat Islam. Mereka adalah lulusan Qum, Iran. Menurut Prof. Dr. Mohammad Baharun, M.Ag penyebaran paham sesat syi’ah utamanya memang dibawa oleh orang-orang Indonesia alumni Universitas Qum, Iran. Sehingga, tipikal syi’ah yang bergerak di Indonesia sama dengan syi’ah di Iran yakni Syi’ah ‘Istna Asyariyah yang revolusioner.
Melalui Narkoba
Bersamaan dengan gigih-beraninya para misionaris syi’ah membela eksistensi mereka di Indonesia, bersamaan dengan tumbuh pesatnya lembaga-lembaga syi’ah di Indonesia, bersamaan dengan semakin banyaknya lulusan Qum yang berkiprah di kampus-kampus, sementara itu melalui pemberitaan kita peroleh fakta bahwa para penyelundup narkoba asal Iran merupakan pemain dominan di Indonesia.
Menurut Kombespol Anjan Pramuka Putra, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, peredaran narkoba di Jakarta saat ini didominasi jaringan narkoba dari Iran. Salah satu sebabnya, harga narkoba di Indonesia jauh lebih mahal dibanding di Iran, bisa mencapai sepuluh hingga duapuluh kali lipat. Bila satu kilogram harga narkoba di Iran (dalam rupiah) mencapai seratus juta, maka di Indonesia bisa bernilai satu atau dua milyar rupiah.
Penyelundup narkoba asal Iran, pada umumnya berperan sebagai kurir yang bekerja untuk warga negara Iran yang sudah lebih dulu mukim di Indonesia. Upah para kurir narkoba asal Iran ini relatif lebih murah bila dibandingkan dengan kurir asal Nigeria. Misalnya, bila kurir asal Nigeria dibayar US$ 5 ribu, maka untuk kurir narkoba warga negara Iran mendapat bayaran hanya US$ 2 ribu.
Selama ini kita beranggapan bahwa maraknya warga Nigeria yang jadi kurir narkoba karena terdesak oleh kemiskinan. Karena memang demikianlah faktanya. Ternyata masih ada lagi yang lebih miskin, yaitu warga negara Iran yang dibayar lebih murah dari kurir asal Nigeria.
Salah satu contoh, warga negara Iran yang tertangkap karena menyelundupkan narkoba di dalam tabung gas untuk menyelam, namanya Sarlakian. Narkoba yang berusaha diselundupkannya berbobot 9 kilogram dengan nilai taksiran sekitar Rp 18 milyar. Sarlakian mengakui bahwa ia melakoni kegiatan haram ini dalam rangka mengumpulkan uang untuk persiapan pensiun. (detikNews Rabu, 21/09/2011 16:42 WIB)
Di negaranya, Sarlakian bekerja sebagai perawat tabung gas untuk menyelam. Berarti ia punya pekerjaan tetap dan penghasilan tetap. Namun dirasakan tidak cukup untuk menjamin hari tuanya. Oleh karena itu, untuk menjamin hari tuanya, setelah pensiun nanti, Sarlakian nekat menjadi kurir narkoba yang upahnya lebih rendah dari kurir Nigeria.
Dari kasus Sarlakian ini saja kita sudah bisa mendapat gambaran tentang tingkat kesejahteraan warga Iran di negaranya sendiri. Bisa dimaknai, Republik Syi’ah Iran ini agak miskin, sehingga rakyatnya harus jadi kurir narkoba. Kalau Iran miskin, dana dari mana untuk membiayai gerakan syi’ah di Indonesia? Jangan-jangan dari bisnis narkoba yang dilakoni warga Iran di Indonesia, yang akhir-akhir ini begitu marak. Wallahu a’lam…(eramuslim.com)
Read More ..
Penetrasi Budaya
Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Pariaman (Sumatera Barat) lebih dikenal sebagai festival budaya lokal ketimbang sebagai ritus penghormatan atas wafatnya Husen ra di Karbala. Pada mulanya, Tabot atau Tabuik memang dijadikan media dasar untuk menyelundupkan paham sesat syi’ah yang dibawa oleh para serdadu bayaran asal India Selatan (Madras dan Bengali) yang berpaham syi’ah. Para serdadu bayaran ini, disebut sepoy atau sipahi atau sipai, yang tugas utamanya adalah melayani kepentingan bangsa Eropa (termasuk Inggris) dalam menjalankan misi kolonialisasi bangsa-bangsa lain termasuk Indonesia.
Pada tahun 1718, serdadu bayaran berpaham syi’ah ini dibawa kolonialis Inggris ke Bengkulu dengan tujuan membangun Benteng Marlborough atau Fort Marlborough. Tidak hanya serdadu bayaran dari India Selatan yang dibawa, tetapi juga sejumlah pekerja asal India Selatan yang dipekerjakan untuk mempercepat proses pembuatan Benteng Marlborough. Dan benteng ini merupakan basis serdadu bayaran (sipai) berpaham syi’ah, yang bekerja untuk mengamankan kolonialis Inggris dalam mengeruk kekayaan alam bangsa Indonesia, terutama lada.
Tradisi Tabot di Bengkulu demikian mulus disosialisasikan para serdadu bayaran karena sejak 23 tahun sebelumnya, Tabot sudah mulai dikenalkan oleh Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo pada tahun 1685. Pada tahun yang sama (1685), kolonialis Inggris membangun kota Bencoolen yang kelak menjadi ibukota Provinsi Bengkulu. Kota Bencoolen kini dalam lidah kita menjadi Bengkulu.
Anak keturunan Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo yang menikah dengan gadis Bengkulu, ditambah para keturunan serdadu bayaran yang menikah dengan perempuan lokal, begitu juga dengan para pekerja yang didatangkan dari India Selatan untuk membangun Benteng Marlbrough, kemudian membentuk komunitas khas yang diberi nama Sipai.
Khusus keturunan Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo, masyarakat juga mengenal mereka dengan sebutan khusus yaitu Keluarga Tabot. Tradisi berbasis paham sesat syi’ah ini kemudian masuk ke Pariaman pada tahun 1831, juga dibawa oleh serdadu bayaran asal India yang bekerja untuk kolonialis Inggris.
Kalau toh tradisi berbau syi’ah ini masih eksis hingga kini, itu karena faktor fulus, pemerintah daerah setempat menjadikannya objek wisata lokal, dan menyediakan anggaran miliaran rupiah. Festival Tabot 2010 di Bengkulu, menghabiskan dana Rp 1,2 milyar. Di Pariaman, pada April 2011 lalu dibangun dua unit Rumah Tabuik. Sumber dana pembuatan rumah tabuik berasal dari APBN (Rp 2,3 miliar) dan APBD Pariaman (Rp 1,71 miliar).
Dua unit rumah tabuik tersebut, masing-masing terletak di jalan Imam Bonjol. Satu unit lagi di jalan Syekh Burhanuddin, sebuah nama yang mengingatkan kita pada sosok pelopor Tabot Bengkulu pada 1685.
Kawin Kontrak
Menurut sebuah sumber, wabah kawin kontrak alias nikah mut’ah khas syi’ah sudah mulai merebak awal 1980, atau tak berapa lama pasca Revoulsi Syi’ah yang terjadi di Iran pada Januari 1978-Desember 1979.
Lokus penyebaran kawin kontrak alias nikah mut’ah ini konon bermula dari kawasan Desa Tugu, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, yang lebih populer dengan sebutan kawasan Puncak. Di kawasan ini ada sebuah pemukiman yang dinamakan Sampai, yang menjadi sentra pemasok wanita-wanita praktisi nikah mut’ah. Nama Sampai memang agak mirip dengan Sipai, nama sebuah komunitas keturunan Syi’ah di Bengkulu.
Praktik nikah mut’ah alias kawin kontrak ini, lebih sering terjadi antara warga lokal dengan pria berwajah timur tengah. Karena kawasan Puncak ini merupakan tujuan wisata, tidak hanya bagi turis lokal dari Jakarta, maka tradisi nikah mut’ah khas syi’ah yang dipraktekkan warga Sampai menjadi berbaur dengan praktik prostitusi yang dilakoni wanita-wanita dari daerah luar Sampai, bahkan ada yang dari Jakarta.
Nikah mut’ah alias kawin kontrak dan prostitusi memang ibarat saudara kembar. Mereka sukar dibedakan. Yang pasti, dalam perspektif syari’ah Islam, keduanya tergolong zina, jelas haram.
Moda (jenis, mode) kawin kontrak khas syi’ah ini kemudian juga berkembang ke kawasan Jawa Tengah, khususnya di Jepara, pusat industri mebel. Pelakunya, wanita lokal dengan pria bertampang bule. Motifnya, selain kesenangan juga untuk memuluskan bisnis. Pria bule warga negara asing tidak mendapat izin membeli sebidang tanah atau mendirikan usaha. Maka, dengan menikahi wanita lokal, pria bule ini selain bisa mendapatkan kepuasan juga bisa membeli sebidang tanah dan mendirikan perusahaan yang diatasnamakan wanita yang dinikahinya secara temporer.
Begitulah dampak kawin kontrak khas syi’ah, wanita-wanita kita dijadikan objek seks, dijadikan boneka untuk menguasai sebidang tanah, mendirikan sebuah perusahaan. Wanita-wanita kita direndahkan martabatnya. Sekaligus, mempermainkan Islam. Karena, para pria bule itu bersyahadat sekedar untuk memenuhi syarat agar bisa menjalani kawin kontrak, demi bisnis dan syahwat.
Penetrasi Intelektual
Penetrasi budaya paham sesat syi’ah melalui tabot atau tabuik, hanyalah salah satu cara saja di dalam menginjeksi racun akidah syi’ah ke dalam tubuh umat Islam Indonesia. Ada sejumlah tradisi khas syi’ah yang dipraktekkah umat Islam Indonesia, khususnya oleh komunitas praktisi bid’ah, yang kini dipimpin oleh Said Agil Siradj, salah seorang pendukung syi’ah yang konsisten. Secara kultural, praktisi bid’ah dan syi’ah memang compatible (cocok). Contohnya adalah tradisi milad dan khaul yang sering dipraktekkan komunitas penggemar bid’ah ini.
Bila penetrasi budaya terbukti berjalan lamban, maka tampaknya mereka menganggap perlu ada penetrasi yang berjalan cepat. Yaitu dengan jalan mencetak kader-kader intelektual pro syi’ah. Pasca Revolusi Syi’ah, terutama sejak 1981, deras mengalir beasiswa dari Iran bagi pemuda Indonesia yang mau bersekolah di Qum, Iran. Lulusan Qum ini kemudian mengembangkan syi’ah ke kampus-kampus dengan kedok Islamic Cultural Center (ICC).
Sebelumnya, kita hanya bisa menemukan segelintir nama populer, intelektual pro syi’ah. Misalnya, Umar Shihab (salah satu Ketua MUI Pusat), Jalaluddin Rakhmat (tokoh IJABI), Zulfan Lindani (keluaran FISIP UNAS Jakarta, mantan politisi PDI-P yang kini aktif di Nasdem), Haidar Bagir (lulusan ITB, mantan wartawan Republika, kini pemilik Penerbit Mizan).
Melalui sosok Umar Shihab, pembelaan terhadap Syi’ah sedemikian telanjang dan vulgar. Bahkan, Umar Shihab yang merupakan kakak kandung Quraish Shihab ini, berani menempuh jalan dusta untuk membela syi’ah, sebagaimana bisa dibaca melalui berbagai pemberitaan media massa. Lebih parah lagi, MUI belum berani tegas menerbitkan fatwa tentang kesesatan Syi’ah, antara lain akibat kegigihan Umar Shihab menentang terbitnya fatwa tersebut.
Dari fakta ini saja kita sudah mendapat bukti bahwa serangan syi’ah ke dalam institusi ulama sedemikian efektif. Sehingga, sekian banyak ulama yang ada di lembaga itu, meski mereka mengaku ahlussunnah dan membela akidah umat, ternyata keok hanya oleh seorang syi’ah yang sudah gaek sekalipun.
Bila Umar Shihab menyerang dari dalam MUI, dan para intelektual muda lulusan Qum menyerang dari dalam kampus, maka Jalaluddin Rakhmat menyerang dari luar melalui IJABI. Salah satu bukti keberhasilan IJABI terwakili oleh sosok Tajul Muluk yang gigih-berani mempertahankan syi’ah di tengah-tengah masyarakat Islam di Sampang, sehingga terjadi ledakan kemarahan pada 29 Desember 2011.
Masih ada satu lagi intelektual syi’ah yaitu Haidar Bagir (lulusan ITB) yang menyerang dengan pena. Haidar Bagir pemilik dan pendiri Mizan –perusahaan penerbitan yang relatif lebih muda dari, katakanlah GIP (Gema Insani Press)– ternyata mampu tumbuh sedemikian cepat menjadi salah satu penerbit papan atas, yang kini juga merambah dunia perfilman.
Nama-nama di atas adalah tokoh syi’ah yang kiprahnya kelihatan, dan berani. Masih banyak intelektual misionaris syi’ah yang belum berhasil diidentifikasi umat Islam. Mereka adalah lulusan Qum, Iran. Menurut Prof. Dr. Mohammad Baharun, M.Ag penyebaran paham sesat syi’ah utamanya memang dibawa oleh orang-orang Indonesia alumni Universitas Qum, Iran. Sehingga, tipikal syi’ah yang bergerak di Indonesia sama dengan syi’ah di Iran yakni Syi’ah ‘Istna Asyariyah yang revolusioner.
Melalui Narkoba
Bersamaan dengan gigih-beraninya para misionaris syi’ah membela eksistensi mereka di Indonesia, bersamaan dengan tumbuh pesatnya lembaga-lembaga syi’ah di Indonesia, bersamaan dengan semakin banyaknya lulusan Qum yang berkiprah di kampus-kampus, sementara itu melalui pemberitaan kita peroleh fakta bahwa para penyelundup narkoba asal Iran merupakan pemain dominan di Indonesia.
Menurut Kombespol Anjan Pramuka Putra, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, peredaran narkoba di Jakarta saat ini didominasi jaringan narkoba dari Iran. Salah satu sebabnya, harga narkoba di Indonesia jauh lebih mahal dibanding di Iran, bisa mencapai sepuluh hingga duapuluh kali lipat. Bila satu kilogram harga narkoba di Iran (dalam rupiah) mencapai seratus juta, maka di Indonesia bisa bernilai satu atau dua milyar rupiah.
Penyelundup narkoba asal Iran, pada umumnya berperan sebagai kurir yang bekerja untuk warga negara Iran yang sudah lebih dulu mukim di Indonesia. Upah para kurir narkoba asal Iran ini relatif lebih murah bila dibandingkan dengan kurir asal Nigeria. Misalnya, bila kurir asal Nigeria dibayar US$ 5 ribu, maka untuk kurir narkoba warga negara Iran mendapat bayaran hanya US$ 2 ribu.
Selama ini kita beranggapan bahwa maraknya warga Nigeria yang jadi kurir narkoba karena terdesak oleh kemiskinan. Karena memang demikianlah faktanya. Ternyata masih ada lagi yang lebih miskin, yaitu warga negara Iran yang dibayar lebih murah dari kurir asal Nigeria.
Salah satu contoh, warga negara Iran yang tertangkap karena menyelundupkan narkoba di dalam tabung gas untuk menyelam, namanya Sarlakian. Narkoba yang berusaha diselundupkannya berbobot 9 kilogram dengan nilai taksiran sekitar Rp 18 milyar. Sarlakian mengakui bahwa ia melakoni kegiatan haram ini dalam rangka mengumpulkan uang untuk persiapan pensiun. (detikNews Rabu, 21/09/2011 16:42 WIB)
Di negaranya, Sarlakian bekerja sebagai perawat tabung gas untuk menyelam. Berarti ia punya pekerjaan tetap dan penghasilan tetap. Namun dirasakan tidak cukup untuk menjamin hari tuanya. Oleh karena itu, untuk menjamin hari tuanya, setelah pensiun nanti, Sarlakian nekat menjadi kurir narkoba yang upahnya lebih rendah dari kurir Nigeria.
Dari kasus Sarlakian ini saja kita sudah bisa mendapat gambaran tentang tingkat kesejahteraan warga Iran di negaranya sendiri. Bisa dimaknai, Republik Syi’ah Iran ini agak miskin, sehingga rakyatnya harus jadi kurir narkoba. Kalau Iran miskin, dana dari mana untuk membiayai gerakan syi’ah di Indonesia? Jangan-jangan dari bisnis narkoba yang dilakoni warga Iran di Indonesia, yang akhir-akhir ini begitu marak. Wallahu a’lam…(eramuslim.com)
Read More ..
Thursday, 29 December 2011
Tinggalkan Tahun Baru-an, Cukuplah Islam sebagai Kebanggaan!
Oleh: Saefurrahman
BEBERAPA hari lagi, kita akan meninggalkan tahun 2011, lalu memasuki tahun baru 2012 masehi. Fenomena perpindahan tahun ini menjadi momen spesial bagi sebagian besar orang. Dari belahan bumi bagian barat sampai bagian timur, dari utara sampai selatan. Semuanya merayakan detik-detik datangnya tahun baru masehi. Tiupan terompet terdengar di mana-mana, petasan dan kembang api berhamburan menghiasi langit, pesta musik bergemuruh di berbagai tempat. Acara televisi pun semarak dengan nuansa tahun baru. Semua orang berhura-hura dan bergembira ria sepuasnya.
Namun ada fenomena menyedihkan di tengah semaraknya tahun baru itu. Meriahnya tahun baru berbanding lurus dengan meriahnya kemaksiatan di mana-mana. Ada yang berpesta dengan minuman keras, mengonsumsi obat-abatan terlarang, hingga melakukan pergaulan bebas di malam itu. Hal ini adalah sebuah keprihatinan bagi masyarakat Indonesia sebagai negeri mayoritas Muslim. Sungguh bisa menjadi cermin buruk bagi negeri Muslim lainnya. Apalagi akhir-akhir ini kerusakan moral bangsa ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Jajaran Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri pada 25 Oktober 2011 silam menangkap pengirim dan penerima paket daun ganja asal Aceh seberat 50 kilogram senilai Rp 125 juta. Daun ganja yang dikemas dalam dua peti kayu dan menggunakan jasa pengiriman atau ekspedisi itu diduga dipasok dari Aceh untuk malam Tahun Baru 2012 di Jakarta dan beberapa tempat lainnya.(www.tribunnews.com)
Bukan hal yang aneh. Menjelang pesta pergantian tahun 2010/2011, dikabarkan permintaan alat kontrasepsi khususnya kondom di sejumlah daerah ludes diborong. Di beberapa apotik di Yogyakarta pasokan kondom mengalami peningkatan yang cukup tajam. Bahkan, salah satu apotek di kawasan jalan Yogya-Parangtritis mengalami peningkatan permintaan hingga 100 persen. (suaramerdeka.com, 01 Januari 2011).
Data-data di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kerusakan moral yang luar biasa. Maka dari itu, adanya perayaan malam tahun baru akan semakin menambah daftar panjang kasus kerusakan moral di negeri ini. Sangat mungkin terjadi banyak pasangan muda rela melepaskan kehormatannya hanya demi merayakan fenomena tahun baru masehi. Hal ini mesti menjadi perhatian kita bersama, baik bagi orang tua, guru, ulama, pemerintah, dan lainnya.
Sekilas Sejarah
Ada baiknya kita mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah lahirnya tahun baru masehi. Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.
Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. (http://id.wikipedia.org)
Januarius (januari) dipilih sebagai bulan pertama karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi bernama “Janus”, yaitu dewa yang bermuka dua. Satu muka menghadap ke depan dan satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus konon adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada masa puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktifitas umumnya libur dan semua senat dapat berkumpul untuk memilih konsul. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru.
Penjelasan di atas sangat jelas membuktikan bahwa tahun baru masehi berasal dari tradisi Barat. Tentu sangat aneh jika kaum Muslim yang memiliki tradisi Islam ikut membaur dalam perayaan itu. Padahal Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah mewanti-wanti kepada umatnya agar tidak mengikuti tradisi agama lain.
Beliau bersabda: "Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah-demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak sekalipun kalian akan ikut memasukinya". Para sahabat bertanya: "Maksudnya Yahudi dan Nasrani?. Lalu siapa lagi." jawab Rasulullah. (HR Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziiro’ (hasta) serta lubang dhob, adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum Muslim sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashrani. Yaitu kaum Muslim mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau (Nabi saw) ini adalah suatu mukjizat bagi beliau, karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.” (Imam Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/220)
Dalam hadits lain disebutkan, "Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum itu." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun dzahirnya mengkafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى);
وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِي
“Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).”
Dalam ayat lain disebutkan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi aulia' (teman-teman setia) yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus." (QS: Al Mumtahanah: 1)
Dengan penjelasan ini, jika tradisi dari Barat itu baik dan konstruktif tidak masalah, seperti mengikuti kemajuan teknologi mereka, namun yang diikuti adalah jelas-jelas hal-hal yang menimbulkan kerusakan moral, terutama bagi generasi muda.
Dalam malam tahun baru itu, pasti tidak bisa dipisahkan dengan berpesta-pora, berikhtilat (bercampur baur) antara laki-laki dan perempuan. Bisa juga diselingi menenggak minuman keras, mengkonsumsi narkoba, melakukan kemubadziran dengan menyalakan petasan dan kembang api, dan masih banyak hal-hal dekstruktif yang ujungnya dikategorikan pada maksiat.
Hal-hal tersebut di atas sangat jelas bertolak belakang dengan apa yang diajarkan Islam.
Untuk itu, umat Islam hendaknya lebih cerdas dan bijak dalam menyikapi hal-hal yang berasal dari tradisi asing.
Marilah kita mulai pada diri kita untuk berfikir lebih cerdas. Apakah semua tradisi budaya itu membawa kemanfaatan atau malah membuat kerusakan pada diri, keluarga, teman atau anak-anak kita. Jika memang membawa kemaslahatan bisa kita ambil, namun jika ternyata hanya membawa kerusakan, maka harus kita dibuang sejauh-jauhnya. Maka tak ada salahnya saya ucapkan, tinggalkanlah tradisi Tahun Baru-an, dan cukuplah Islam saja sebagai kebanggaan kita!. Wallahu a’lam bis shawab.
Penulis adalah peminat masalah keagamaan (hidayatullah.com)
Read More ..
BEBERAPA hari lagi, kita akan meninggalkan tahun 2011, lalu memasuki tahun baru 2012 masehi. Fenomena perpindahan tahun ini menjadi momen spesial bagi sebagian besar orang. Dari belahan bumi bagian barat sampai bagian timur, dari utara sampai selatan. Semuanya merayakan detik-detik datangnya tahun baru masehi. Tiupan terompet terdengar di mana-mana, petasan dan kembang api berhamburan menghiasi langit, pesta musik bergemuruh di berbagai tempat. Acara televisi pun semarak dengan nuansa tahun baru. Semua orang berhura-hura dan bergembira ria sepuasnya.
Namun ada fenomena menyedihkan di tengah semaraknya tahun baru itu. Meriahnya tahun baru berbanding lurus dengan meriahnya kemaksiatan di mana-mana. Ada yang berpesta dengan minuman keras, mengonsumsi obat-abatan terlarang, hingga melakukan pergaulan bebas di malam itu. Hal ini adalah sebuah keprihatinan bagi masyarakat Indonesia sebagai negeri mayoritas Muslim. Sungguh bisa menjadi cermin buruk bagi negeri Muslim lainnya. Apalagi akhir-akhir ini kerusakan moral bangsa ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Jajaran Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri pada 25 Oktober 2011 silam menangkap pengirim dan penerima paket daun ganja asal Aceh seberat 50 kilogram senilai Rp 125 juta. Daun ganja yang dikemas dalam dua peti kayu dan menggunakan jasa pengiriman atau ekspedisi itu diduga dipasok dari Aceh untuk malam Tahun Baru 2012 di Jakarta dan beberapa tempat lainnya.(www.tribunnews.com)
Bukan hal yang aneh. Menjelang pesta pergantian tahun 2010/2011, dikabarkan permintaan alat kontrasepsi khususnya kondom di sejumlah daerah ludes diborong. Di beberapa apotik di Yogyakarta pasokan kondom mengalami peningkatan yang cukup tajam. Bahkan, salah satu apotek di kawasan jalan Yogya-Parangtritis mengalami peningkatan permintaan hingga 100 persen. (suaramerdeka.com, 01 Januari 2011).
Data-data di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kerusakan moral yang luar biasa. Maka dari itu, adanya perayaan malam tahun baru akan semakin menambah daftar panjang kasus kerusakan moral di negeri ini. Sangat mungkin terjadi banyak pasangan muda rela melepaskan kehormatannya hanya demi merayakan fenomena tahun baru masehi. Hal ini mesti menjadi perhatian kita bersama, baik bagi orang tua, guru, ulama, pemerintah, dan lainnya.
Sekilas Sejarah
Ada baiknya kita mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah lahirnya tahun baru masehi. Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.
Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. (http://id.wikipedia.org)
Januarius (januari) dipilih sebagai bulan pertama karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi bernama “Janus”, yaitu dewa yang bermuka dua. Satu muka menghadap ke depan dan satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus konon adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada masa puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktifitas umumnya libur dan semua senat dapat berkumpul untuk memilih konsul. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru.
Penjelasan di atas sangat jelas membuktikan bahwa tahun baru masehi berasal dari tradisi Barat. Tentu sangat aneh jika kaum Muslim yang memiliki tradisi Islam ikut membaur dalam perayaan itu. Padahal Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah mewanti-wanti kepada umatnya agar tidak mengikuti tradisi agama lain.
Beliau bersabda: "Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah-demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak sekalipun kalian akan ikut memasukinya". Para sahabat bertanya: "Maksudnya Yahudi dan Nasrani?. Lalu siapa lagi." jawab Rasulullah. (HR Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziiro’ (hasta) serta lubang dhob, adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum Muslim sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashrani. Yaitu kaum Muslim mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau (Nabi saw) ini adalah suatu mukjizat bagi beliau, karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.” (Imam Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/220)
Dalam hadits lain disebutkan, "Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum itu." (HR Ahmad dan Abu Daud).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun dzahirnya mengkafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى);
وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِي
“Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).”
Dalam ayat lain disebutkan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi aulia' (teman-teman setia) yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus." (QS: Al Mumtahanah: 1)
Dengan penjelasan ini, jika tradisi dari Barat itu baik dan konstruktif tidak masalah, seperti mengikuti kemajuan teknologi mereka, namun yang diikuti adalah jelas-jelas hal-hal yang menimbulkan kerusakan moral, terutama bagi generasi muda.
Dalam malam tahun baru itu, pasti tidak bisa dipisahkan dengan berpesta-pora, berikhtilat (bercampur baur) antara laki-laki dan perempuan. Bisa juga diselingi menenggak minuman keras, mengkonsumsi narkoba, melakukan kemubadziran dengan menyalakan petasan dan kembang api, dan masih banyak hal-hal dekstruktif yang ujungnya dikategorikan pada maksiat.
Hal-hal tersebut di atas sangat jelas bertolak belakang dengan apa yang diajarkan Islam.
Untuk itu, umat Islam hendaknya lebih cerdas dan bijak dalam menyikapi hal-hal yang berasal dari tradisi asing.
Marilah kita mulai pada diri kita untuk berfikir lebih cerdas. Apakah semua tradisi budaya itu membawa kemanfaatan atau malah membuat kerusakan pada diri, keluarga, teman atau anak-anak kita. Jika memang membawa kemaslahatan bisa kita ambil, namun jika ternyata hanya membawa kerusakan, maka harus kita dibuang sejauh-jauhnya. Maka tak ada salahnya saya ucapkan, tinggalkanlah tradisi Tahun Baru-an, dan cukuplah Islam saja sebagai kebanggaan kita!. Wallahu a’lam bis shawab.
Penulis adalah peminat masalah keagamaan (hidayatullah.com)
Read More ..
Tuesday, 27 December 2011
Antara Punk, Aceh dan Syariat Islam
PRO dan kontra penangkapan anak punk di Aceh harus disikapi secara sehat dan bijak tanpa mengedepankan emosi. Seperti diberitakan di beberapa media baik lokal dan juga beberapa media asing terjadi kontroversi terhadap penangkapan anak punk. Mayoritas masyarakat Aceh dan beberapa organisasi di Aceh mendukung aksi penangkapan dan pembinaan terhadap anak punk. Di sisi lain ada juga beberapa pihak yang malah menuding penangkapan anak punk melanggar HAM seperti yang diutarakan oleh Komnas HAM.
Di beberapa media juga diberitakan terjadi aksi protes yang dilakukan oleh para punker (anak-anak punk) seperti yang terjadi di Makasar dan juga dibeberapa tempat lain di Indonesia. Aksi yang dilakukan oleh punker tersebut adalah sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap saudara mereka yang ditangkap di Aceh.
Punk Masuk Aceh
Dari berbagai sumber yang penulis telusuri bahwa komunitas punk lahir di London, Inggris. Kelahiran komunitas ini muncul akibat kekecewaan mereka kepada kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi.
Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar.
Anak punk terkadang juga sering dikaitkan dengan kejahatan dan aksi kriminal, meskipun para punker yang ada di Aceh membantah tuduhan tersebut.
Seingat penulis, sebelum terjadinya tsunami di Aceh penulis tidak pernah mendengar ada komunitas punk di Aceh. Entah kapan komunitas ini lahir dan berkembang di Aceh mungkin belum ada orang yang mengetahuinya secara pasti dan menurut penulis “sangat tidak penting” untuk diketahui.
Penolakan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh terhadap punk merupakan hal yang wajar disebabkan Aceh merupakan satu – satunya provinsi di Indonesia yang menjaga wilayahnya dengan syariat Islam.
Konon lagi dari dulu Aceh juga dikenal sebagai “serambi Makkah” dan merupakan pusat Islam pertama di Nusantara. Maka jangan heran, jika sesekali kita melihat ibadah yang dilakukan oleh orang Aceh terkadang bertentangan dan berbeda dengan pemahaman masyarakat Makkah. Bisa saja hal ini dipicu oleh sikap sebagian orang Aceh yang menganggap dirinya lebih `alim dari orang Makkah dikarenakan Aceh adalah “serambinya” Makkah.
Mungkin, penjelasan penulis tentang masalah ini terlalu berlebihan sehingga tidak lagi relevan dengan maksud penulisan artikel ini. Namun demikian hal ini penting untuk kita ketahui bersama, setidaknya untuk memperkaya pengetahuan kita tentang syariat Islam yang sedang berjalan di Aceh.
Punk, Aceh dan Islam
Islam merupakan agama terakhir yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wataa’la kepada kepada hamba terpilih Muhammad Shallallahu ‘Alai Wassallam melalui perantaraan Jibril as untuk kemudian disampaikan kepada seluruh umat manusia.
Islam merupakan satu - satunya agama yang paling lengkap diantara agama – agama yang pernah ada dibumi sehingga tidak dibutuhkan penambahan apalagi pengurangan dalam setiap ajarannya.
Tentang beberapa tudingan yang diserukan oleh para pegiat HAM tentang penangkapan anak punk di Aceh menurut penulis masih diperlukan kajian tentang konsep HAM yang mereka pahami.
Sejarah telah mencatat bahwa Islam adalah agama yang pertama sekali meletakkan dasar–dasar Hak Asasi Manusia di muka bumi, yang lantas diadopsi oleh dunia Barat dan disesuaikan dengan HAM (lebih tepat disebut hawa nafsu/HAW).
Pemahaman mereka terhadap HAM terlalu liar dan nyaris tidak terkontrol sehingga hak – hak Allah seringkali diabaikan dalam rangka memenuhi hajat dan keinginan nafsu mereka. Orang yang meninggalkan shalat jika ditinjau dari konsep HAM Barat mungkin sah–sah saja mengingat dalam pemahan kafir/atheis itu adalah hak manusia yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun termasuk oleh Allah sebagai pembuat syariat.
Jika ditinjau dari berbagai aspek khususnya aspek adat istiadat dan agama memang anak punk bisa dianggap tidak pantas berada di Aceh. Semua mata kita pasti bisa melihat gaya dan kelakukan anak punk yang sangat bertentangan dengan adat dan budaya ketimuran, khususnya Aceh.
Cara berpakaian dan gaya mereka merupakan cermin dari budaya Barat yang jelas–jelas bertentangan dengan syariat Islam. Aceh merupakan pusat Islam pertama di nusantara sehingga keberadaan anak punk di Aceh dapat merusak citra Aceh dimata daerah lain.
Dalam banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alai Wassallam melarang kita untuk menyerupai orang – orang kafir dalam segala hal termasuk cara berpakain. Memang jika ditinjau dari konsep HAM Barat setiap manusia bebas berpakaian dan bergaya menurut selera mereka. HAM Barat (mungkin) juga membolehkan setiap manusia melakukan apa saja yang dikehendakinya mengingat itu adalah hak mereka.
Namun bagi kita yang beragama Islam atau minimal ber-KTP Islam tidak boleh mengadopsi dan menelan mentah – mentah teori HAM Barat, yang mengajarkan kebebasan.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Amerika sebagai panglimanya dunia Barat setiap saat berkoar – koar dan mengaku sebagai pembela HAM meskipun setiap saat mereka melakukan pelanggaran HAM.
Konsep Islam melebihi HAM yang diajarkan Barat. Karena Islam dangat menjunjung tinggi martabat manusia. Hal ini berbeda dengan HAM Barat yang justru merendahkan martabat manusia. Kita semua melihat bagaimana penyiksaan yang dilakukan oleh Amerika terhadap para tawanan baik di Iraq, Afganistan maupun di negara – negara Islam lainnya.
Satu bukti Barat yang ambigu. Mereka ingin mengajarkan kita teori – teori HAM namun di saat yang sama, mereka sendiri yang melakukan pelanggaran HAM berat, khususnya di negara – negara Islam.
Aksi penangkapan dan pembinaan terhadap anak punk di Aceh menurut penulis sudah tepat dan patut didukung oleh semua pihak.
Karena itu, tidak ada pelanggaran HAM seperti tudingan para pegiat HAM Barat.
Khususnya bagi anak punk Aceh yang mungkin beragama Islam sudah sepatutnya mereka dibina agar menjadi manusia yang lebih baik. Selain itu, seharunya banyak pihak mendukung upaya ini dan tidak menjadi apriori.
Dalam beberapa kasus pembinaan anak-anak punk ini. Nampaknya justru berdampak postif.
Sebanyak 65 punkers yang sedang dibina di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, bahkan tak mampu menyembunyikan keceriaan saat kehadiran Kapolda Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan yang mengunjungi mereka sehabis mendapat pembinaan.
65 anak yang ditertibkan Pemko Banda Aceh dan dibina pihak kepolisian ini justru merasa senang.
“Banyak hal yang selama ini kami tinggalkan, seperti shalat lima waktu, makan teratur, dan kebersihan diri. Semua itu kami dapatkan kembali di sini,” kata Andri, seorang anak punk dari Lhong Raya, Kota Banda Aceh, kepada Serambi. (aceh.tribunnews.com, 21/12/2011).
Adalah naif, jika anak-anak itu dibiarkan berada di jalanan secara liar yang bisa jadi akan melahirkan tindak pidana. Namun ketika mereka dibina secara baik, agar bisa diharapkan menjadi orang-orang baik dan berkualitas dari sebelumnya, lantas banyak LSM meneriakkan kata-kata kecaman dengan slogan HAM-nya.
Jika demikian, maaf, jangan-jangan mereka inilah yang menginginkan Aceh menjadi tidak baik dan rusak. Bisa juga mereka sengaja menciptakan situasi agar Aceh tidak lagi mendapat julukan “Serambi Makkah”. Wallahul Musta`an.
Penulis Peminat Kajian Sosial, Politik dan Keagamaan, Sekjend Jeumpa Mirah (hidayatullah.com)
Read More ..
Di beberapa media juga diberitakan terjadi aksi protes yang dilakukan oleh para punker (anak-anak punk) seperti yang terjadi di Makasar dan juga dibeberapa tempat lain di Indonesia. Aksi yang dilakukan oleh punker tersebut adalah sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap saudara mereka yang ditangkap di Aceh.
Punk Masuk Aceh
Dari berbagai sumber yang penulis telusuri bahwa komunitas punk lahir di London, Inggris. Kelahiran komunitas ini muncul akibat kekecewaan mereka kepada kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi.
Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar.
Anak punk terkadang juga sering dikaitkan dengan kejahatan dan aksi kriminal, meskipun para punker yang ada di Aceh membantah tuduhan tersebut.
Seingat penulis, sebelum terjadinya tsunami di Aceh penulis tidak pernah mendengar ada komunitas punk di Aceh. Entah kapan komunitas ini lahir dan berkembang di Aceh mungkin belum ada orang yang mengetahuinya secara pasti dan menurut penulis “sangat tidak penting” untuk diketahui.
Penolakan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh terhadap punk merupakan hal yang wajar disebabkan Aceh merupakan satu – satunya provinsi di Indonesia yang menjaga wilayahnya dengan syariat Islam.
Konon lagi dari dulu Aceh juga dikenal sebagai “serambi Makkah” dan merupakan pusat Islam pertama di Nusantara. Maka jangan heran, jika sesekali kita melihat ibadah yang dilakukan oleh orang Aceh terkadang bertentangan dan berbeda dengan pemahaman masyarakat Makkah. Bisa saja hal ini dipicu oleh sikap sebagian orang Aceh yang menganggap dirinya lebih `alim dari orang Makkah dikarenakan Aceh adalah “serambinya” Makkah.
Mungkin, penjelasan penulis tentang masalah ini terlalu berlebihan sehingga tidak lagi relevan dengan maksud penulisan artikel ini. Namun demikian hal ini penting untuk kita ketahui bersama, setidaknya untuk memperkaya pengetahuan kita tentang syariat Islam yang sedang berjalan di Aceh.
Punk, Aceh dan Islam
Islam merupakan agama terakhir yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wataa’la kepada kepada hamba terpilih Muhammad Shallallahu ‘Alai Wassallam melalui perantaraan Jibril as untuk kemudian disampaikan kepada seluruh umat manusia.
Islam merupakan satu - satunya agama yang paling lengkap diantara agama – agama yang pernah ada dibumi sehingga tidak dibutuhkan penambahan apalagi pengurangan dalam setiap ajarannya.
Tentang beberapa tudingan yang diserukan oleh para pegiat HAM tentang penangkapan anak punk di Aceh menurut penulis masih diperlukan kajian tentang konsep HAM yang mereka pahami.
Sejarah telah mencatat bahwa Islam adalah agama yang pertama sekali meletakkan dasar–dasar Hak Asasi Manusia di muka bumi, yang lantas diadopsi oleh dunia Barat dan disesuaikan dengan HAM (lebih tepat disebut hawa nafsu/HAW).
Pemahaman mereka terhadap HAM terlalu liar dan nyaris tidak terkontrol sehingga hak – hak Allah seringkali diabaikan dalam rangka memenuhi hajat dan keinginan nafsu mereka. Orang yang meninggalkan shalat jika ditinjau dari konsep HAM Barat mungkin sah–sah saja mengingat dalam pemahan kafir/atheis itu adalah hak manusia yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun termasuk oleh Allah sebagai pembuat syariat.
Jika ditinjau dari berbagai aspek khususnya aspek adat istiadat dan agama memang anak punk bisa dianggap tidak pantas berada di Aceh. Semua mata kita pasti bisa melihat gaya dan kelakukan anak punk yang sangat bertentangan dengan adat dan budaya ketimuran, khususnya Aceh.
Cara berpakaian dan gaya mereka merupakan cermin dari budaya Barat yang jelas–jelas bertentangan dengan syariat Islam. Aceh merupakan pusat Islam pertama di nusantara sehingga keberadaan anak punk di Aceh dapat merusak citra Aceh dimata daerah lain.
Dalam banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alai Wassallam melarang kita untuk menyerupai orang – orang kafir dalam segala hal termasuk cara berpakain. Memang jika ditinjau dari konsep HAM Barat setiap manusia bebas berpakaian dan bergaya menurut selera mereka. HAM Barat (mungkin) juga membolehkan setiap manusia melakukan apa saja yang dikehendakinya mengingat itu adalah hak mereka.
Namun bagi kita yang beragama Islam atau minimal ber-KTP Islam tidak boleh mengadopsi dan menelan mentah – mentah teori HAM Barat, yang mengajarkan kebebasan.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Amerika sebagai panglimanya dunia Barat setiap saat berkoar – koar dan mengaku sebagai pembela HAM meskipun setiap saat mereka melakukan pelanggaran HAM.
Konsep Islam melebihi HAM yang diajarkan Barat. Karena Islam dangat menjunjung tinggi martabat manusia. Hal ini berbeda dengan HAM Barat yang justru merendahkan martabat manusia. Kita semua melihat bagaimana penyiksaan yang dilakukan oleh Amerika terhadap para tawanan baik di Iraq, Afganistan maupun di negara – negara Islam lainnya.
Satu bukti Barat yang ambigu. Mereka ingin mengajarkan kita teori – teori HAM namun di saat yang sama, mereka sendiri yang melakukan pelanggaran HAM berat, khususnya di negara – negara Islam.
Aksi penangkapan dan pembinaan terhadap anak punk di Aceh menurut penulis sudah tepat dan patut didukung oleh semua pihak.
Karena itu, tidak ada pelanggaran HAM seperti tudingan para pegiat HAM Barat.
Khususnya bagi anak punk Aceh yang mungkin beragama Islam sudah sepatutnya mereka dibina agar menjadi manusia yang lebih baik. Selain itu, seharunya banyak pihak mendukung upaya ini dan tidak menjadi apriori.
Dalam beberapa kasus pembinaan anak-anak punk ini. Nampaknya justru berdampak postif.
Sebanyak 65 punkers yang sedang dibina di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, bahkan tak mampu menyembunyikan keceriaan saat kehadiran Kapolda Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan yang mengunjungi mereka sehabis mendapat pembinaan.
65 anak yang ditertibkan Pemko Banda Aceh dan dibina pihak kepolisian ini justru merasa senang.
“Banyak hal yang selama ini kami tinggalkan, seperti shalat lima waktu, makan teratur, dan kebersihan diri. Semua itu kami dapatkan kembali di sini,” kata Andri, seorang anak punk dari Lhong Raya, Kota Banda Aceh, kepada Serambi. (aceh.tribunnews.com, 21/12/2011).
Adalah naif, jika anak-anak itu dibiarkan berada di jalanan secara liar yang bisa jadi akan melahirkan tindak pidana. Namun ketika mereka dibina secara baik, agar bisa diharapkan menjadi orang-orang baik dan berkualitas dari sebelumnya, lantas banyak LSM meneriakkan kata-kata kecaman dengan slogan HAM-nya.
Jika demikian, maaf, jangan-jangan mereka inilah yang menginginkan Aceh menjadi tidak baik dan rusak. Bisa juga mereka sengaja menciptakan situasi agar Aceh tidak lagi mendapat julukan “Serambi Makkah”. Wallahul Musta`an.
Penulis Peminat Kajian Sosial, Politik dan Keagamaan, Sekjend Jeumpa Mirah (hidayatullah.com)
Read More ..
Pesan Pluralisme dalam Perayaan Natal
“Marry Cristmas,” itulah ungkapan selamat yang merupakan bagian dari budaya umat Kristen yang akhir-akhir ini mulai ikut menular dalam diri umat Islam.
Sepintas kalimat tersebut tidak lain seperti kalimat-kalimat ucapan selamat lainnya. Tapi jika ditelaah lebih dalam ucapan selamat yang satu ini tentu berbeda dengan ungkapan “Selamat Hari Raya Idhul Fitri”, “Selamat Hari Raya Idhul Adha”, “Selamat Tahun Baru Hijriah”. Berbeda karena kita melihat ungkapan “Marry Cristmas” itu menggunakan cara pandang (worldview) Islam yang sebenarnya.
Hari Natal yang identik dirayakan pada tanggal 25 Desember 2011 adalah hari kelahiran Yesus, namun Natal menjadi kepercayaan sebagian kaum Kristen khususnya keyakinan gereja Barat. Akan tetapi, gereja Timur menyangsikan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember.
Paus Yohanes Paulus II pernah mengumumkan kepada umat Kristen bahwa Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember. Tanggal tersebut dulu dirayakan sebab hari tersebut merupakan perayaan tengah musim dingin kaum pagan Roma Kuno (Romana) atau lebih tepatnya adalah hari kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz dan lain-lain.
Perayaan Hari Natal juga menjadi polemik di masyarakat, khususnya Islam. Bagi siapa saja yang tidak ikut merayakannya berarti ia dianggap "tidak toleran". Untuk itulah pusat-pusat perbelanjaan hampir di seluruh daerah kini turut merayakan hari Natal sebagai bentuk toleransi dalam beragama.
Natal dan Doktrin Pluralisme
Dalam “The Passion of The Christ” menerangkan bahwa perdebatan mengenai konsep teologi Kristen masih berpangkal pada konsep ‘Ketuhanan Yesus’. Dengan kata lain, dasarnya saja dianggap ada yang bermasalah.
Oleh karena banyaknya kejanggalan para pemikir Ketuhanan Yesus, sebut saja Arthur Drews (1865-1935) beserta seorang pengikutnya Willian Benjamin Smith (1850-1934) yang bersikap kritis hingga mereka berani mengajukan pertanyaan, “Apakah Yesus itu benar-benar ada, atau hanya sekedar tokoh fiktif dan simbolik saja?”.
Pertanyaan tersebut ternyata ditanggapi oleh Greonen dengan argumen bahwasannya persoalan yang terjadi sebenarnya bukan pada diri Yesus. Tapi yang menjadi masalah bagi manusia adalah bagaimana mereka memahami Yesus, sebab pada dasarnya Tuhan tetaplah Tuhan dan bukan makhluk yang diciptakan.
Atas nama “toleransi”, kini keyakinan umat Islam mulai ikut bercampur-aduk. Akibatnya, konsep kufur dan iman menjadi kabur. Agama saat ini rela “digadaikan” hanya dengan alasan "toleransi". Sekarang Islam, besok Kristen, mungkin besoknya lagi Hindu atau yang lainnya secara tidak terasa.
Keberhasilan paham liberal dengan doktrin pluralisme (menganggap semua agama sama, red) tidak lain menjadikan orang Islam tidak paham ilmu dan kaidah Islam. Mereka beranggapan, seolah agama itu seperti baju yang bisa dipakai sesuka hati. Hari ini berpakaian biru, besok hitam, besoknya lagi abu-abu. Tentu ini pemikiran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Bagaimanapun, konsep pluralisme merupakan proyek Orientalis. Fakta ini dapat dibuktikan melalui pernyataan Peter Ludwig Berger, seorang sosiolog Amerika dan juga teolog Lutheran. Dalam bukunya “The Desecularization of the World”, yang menyatakan bahwa sekularisasi telah gagal, sebab praktek keagamaan ternyata justru bertambah subur dan desekularisasi malah dominan. Oleh sebab itu dalam “The Social Construction of Reality” ia mengusulkan untuk mengganti sekularisasi dengan penyebaran paham pluralisme.
Tentang pluralisme agama, mereka kini berani angkat suara. Mulai William Liddle (Ohio State University dan Diana Eck (Harvard University) hingga Franz Magnis Suseno (STF Driyarkara), dan yang paling terakhir seorang pendeta Jesuit yang berusaha mengaburkan makna pluralisme agama dengan memisahkannya dari relativisme kemudian menyamakannya dengan toleransi.
“Hanya seorang pluralis sejati yang toleran,” begitulah ungkap Jesuit yang menganggap siapa saja yang tidak pluralis maka ia tidak toleran. Termasuk umat Islam.
Tak Berarti Membenarkan Kebatilan
Toleransi tidak berarti harus menjadi pluralis. Saling menghormati dan menghargai tidak berarti membenarkan yang batil dan sesat. Antara haq dan batil sudah jelas.
Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wa Sallam bertetangga dengan orang Yahudi, bersikap ramah dan toleran, namun beliau tetap mengatakan mereka kafir, jika tidak mau memeluk Islam, apalagi jika memusuhi kaum Muslim.
Meminjam pernyataan Dr Hamid Fahmi, pluralisme adalah proyek postmodernisme. Sama halnya dengan argumen Prof Attas yang menganggap sekularisme sebagai program orientalis yang dilaksanakan dengan strategi, dana serta agen pada setiap negara dan agama.
Untuk mengegolkan proyek peradaban tersebut memang tidak mudah. Oleh sebab itulah makna pluralisme dibuat ambigu. Misi umumnya yaitu menghancurkan fundamentalisme, tapi makna istilahnya dibuat bersayap. Terkadang bermakna toleransi dan di waktu yang berbeda berarti relativisme.
Nicholas F. Gier, dari University of Idaho, Moscow, Idaho menyimpulkan karakteristik pemikiran tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat (AS) salah satunya yaitu percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama.
Pada mulanya toleransi dibatasi hanya pada sekte-sekte dalam Kristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi kaum ateis dan pemeluk agama non-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin, Jefferson dan Madison. Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan dalam beragama tapi bebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak beragama.
Di lain sisi, Diana L. Eck dalam “The Challenge of Pluralism”, secara tegas menyatakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi antar umat beragama, bukan juga sekedar menerima pluralitas (diversity). Dalam bukunya “From Diversity to Pluralism” ia “menghayal” bahwa pluralisme adalah “peleburan” agama-agama menjadi satu wajah baru yaitu realitas keagamaan yang plural.
Hayalan Diana tersebut mencerminkan akan kegalauan hatinya yang benar-benar kacau sebagai akibat dari kesalahan konsep yang ada dalam pikirannya. Bagaimana mungkin agama-agama yang konsep ketuhanannya jelas berbeda bisa melebur jadi satu. Suatu hal yang mustahil dan tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Sebagai kesimpulan dari paparan di atas, bahwa perayaan Natal sarat akan doktrin pluralisme. Paham ini bertujuan untuk menyamakan seluruh agama. Apapun agamanya tidak berhak mengatakan bahwa agamanya yang paling benar dan jika ingin hidup damai hormatilah kepercayaan orang lain dengan cara mempercayai keyakinan mereka sama benarnya.
Untuk itu, sudah sepatutnya umat Islam memahami hal ini dan terus berusaha membendung doktrin-doktrin pluralisme seperti halnya ikut-ikutan dalam merayakan hari Natal yang seharusnya tidak dilakukan oleh umat Islam.
Tolerannya Nabi
Sebagai penutup, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”
Alkisah, setelah wafatnya Rasulullah Salallahu “Alaihi Wassalam, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi, yang biasa menyuapin si pengemis Yahudi buta tersebut.
Suatu hari, sahabat Rasulullah yakni Abubakar Radhiallahu Anhu berkunjung ke rumah anaknya Siti Aisyah (isteri Rasulullah) dan bertanya tentang kebiasaan Nabi belum ia kerjakan.
Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abu bakar RA. Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana, “ kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk disuapkan si pengemis Yahudi yang buta. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”, Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Shallalu “Alaihi Wassalam.
Pengemis Yahudi buta itu terkaget-kaget, sebab selama itu orang yang difitnah, diumpat dan dicaci itu tak lain Muhammad yang mulia, yang setiap pagi menyuapinya dengan sabar. Setelah peristiwa itu, sang Yahudi buta akhirnya bersyahadat dan menjadi Muslim.
Banyak orang seolah sudah pintar, seolah ingin mengajari “toleransi” melebihi hebatnya Nabi kita bertoleransi. Rasulullah yang mulia begitu hebat memperlakukan Yahudi melebihi kita, namun tetap saja tak mencampurkan akidah dan menganggap semua agama sama. Wa’Allahu a’lam bi as-Showab.*
Penulis adalah alumni Institut Studi Islam Darussalam ISID Gontor Ponorogo
Read More ..
Sepintas kalimat tersebut tidak lain seperti kalimat-kalimat ucapan selamat lainnya. Tapi jika ditelaah lebih dalam ucapan selamat yang satu ini tentu berbeda dengan ungkapan “Selamat Hari Raya Idhul Fitri”, “Selamat Hari Raya Idhul Adha”, “Selamat Tahun Baru Hijriah”. Berbeda karena kita melihat ungkapan “Marry Cristmas” itu menggunakan cara pandang (worldview) Islam yang sebenarnya.
Hari Natal yang identik dirayakan pada tanggal 25 Desember 2011 adalah hari kelahiran Yesus, namun Natal menjadi kepercayaan sebagian kaum Kristen khususnya keyakinan gereja Barat. Akan tetapi, gereja Timur menyangsikan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember.
Paus Yohanes Paulus II pernah mengumumkan kepada umat Kristen bahwa Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember. Tanggal tersebut dulu dirayakan sebab hari tersebut merupakan perayaan tengah musim dingin kaum pagan Roma Kuno (Romana) atau lebih tepatnya adalah hari kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz dan lain-lain.
Perayaan Hari Natal juga menjadi polemik di masyarakat, khususnya Islam. Bagi siapa saja yang tidak ikut merayakannya berarti ia dianggap "tidak toleran". Untuk itulah pusat-pusat perbelanjaan hampir di seluruh daerah kini turut merayakan hari Natal sebagai bentuk toleransi dalam beragama.
Natal dan Doktrin Pluralisme
Dalam “The Passion of The Christ” menerangkan bahwa perdebatan mengenai konsep teologi Kristen masih berpangkal pada konsep ‘Ketuhanan Yesus’. Dengan kata lain, dasarnya saja dianggap ada yang bermasalah.
Oleh karena banyaknya kejanggalan para pemikir Ketuhanan Yesus, sebut saja Arthur Drews (1865-1935) beserta seorang pengikutnya Willian Benjamin Smith (1850-1934) yang bersikap kritis hingga mereka berani mengajukan pertanyaan, “Apakah Yesus itu benar-benar ada, atau hanya sekedar tokoh fiktif dan simbolik saja?”.
Pertanyaan tersebut ternyata ditanggapi oleh Greonen dengan argumen bahwasannya persoalan yang terjadi sebenarnya bukan pada diri Yesus. Tapi yang menjadi masalah bagi manusia adalah bagaimana mereka memahami Yesus, sebab pada dasarnya Tuhan tetaplah Tuhan dan bukan makhluk yang diciptakan.
Atas nama “toleransi”, kini keyakinan umat Islam mulai ikut bercampur-aduk. Akibatnya, konsep kufur dan iman menjadi kabur. Agama saat ini rela “digadaikan” hanya dengan alasan "toleransi". Sekarang Islam, besok Kristen, mungkin besoknya lagi Hindu atau yang lainnya secara tidak terasa.
Keberhasilan paham liberal dengan doktrin pluralisme (menganggap semua agama sama, red) tidak lain menjadikan orang Islam tidak paham ilmu dan kaidah Islam. Mereka beranggapan, seolah agama itu seperti baju yang bisa dipakai sesuka hati. Hari ini berpakaian biru, besok hitam, besoknya lagi abu-abu. Tentu ini pemikiran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Bagaimanapun, konsep pluralisme merupakan proyek Orientalis. Fakta ini dapat dibuktikan melalui pernyataan Peter Ludwig Berger, seorang sosiolog Amerika dan juga teolog Lutheran. Dalam bukunya “The Desecularization of the World”, yang menyatakan bahwa sekularisasi telah gagal, sebab praktek keagamaan ternyata justru bertambah subur dan desekularisasi malah dominan. Oleh sebab itu dalam “The Social Construction of Reality” ia mengusulkan untuk mengganti sekularisasi dengan penyebaran paham pluralisme.
Tentang pluralisme agama, mereka kini berani angkat suara. Mulai William Liddle (Ohio State University dan Diana Eck (Harvard University) hingga Franz Magnis Suseno (STF Driyarkara), dan yang paling terakhir seorang pendeta Jesuit yang berusaha mengaburkan makna pluralisme agama dengan memisahkannya dari relativisme kemudian menyamakannya dengan toleransi.
“Hanya seorang pluralis sejati yang toleran,” begitulah ungkap Jesuit yang menganggap siapa saja yang tidak pluralis maka ia tidak toleran. Termasuk umat Islam.
Tak Berarti Membenarkan Kebatilan
Toleransi tidak berarti harus menjadi pluralis. Saling menghormati dan menghargai tidak berarti membenarkan yang batil dan sesat. Antara haq dan batil sudah jelas.
Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wa Sallam bertetangga dengan orang Yahudi, bersikap ramah dan toleran, namun beliau tetap mengatakan mereka kafir, jika tidak mau memeluk Islam, apalagi jika memusuhi kaum Muslim.
Meminjam pernyataan Dr Hamid Fahmi, pluralisme adalah proyek postmodernisme. Sama halnya dengan argumen Prof Attas yang menganggap sekularisme sebagai program orientalis yang dilaksanakan dengan strategi, dana serta agen pada setiap negara dan agama.
Untuk mengegolkan proyek peradaban tersebut memang tidak mudah. Oleh sebab itulah makna pluralisme dibuat ambigu. Misi umumnya yaitu menghancurkan fundamentalisme, tapi makna istilahnya dibuat bersayap. Terkadang bermakna toleransi dan di waktu yang berbeda berarti relativisme.
Nicholas F. Gier, dari University of Idaho, Moscow, Idaho menyimpulkan karakteristik pemikiran tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat (AS) salah satunya yaitu percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama.
Pada mulanya toleransi dibatasi hanya pada sekte-sekte dalam Kristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi kaum ateis dan pemeluk agama non-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin, Jefferson dan Madison. Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan dalam beragama tapi bebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak beragama.
Di lain sisi, Diana L. Eck dalam “The Challenge of Pluralism”, secara tegas menyatakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi antar umat beragama, bukan juga sekedar menerima pluralitas (diversity). Dalam bukunya “From Diversity to Pluralism” ia “menghayal” bahwa pluralisme adalah “peleburan” agama-agama menjadi satu wajah baru yaitu realitas keagamaan yang plural.
Hayalan Diana tersebut mencerminkan akan kegalauan hatinya yang benar-benar kacau sebagai akibat dari kesalahan konsep yang ada dalam pikirannya. Bagaimana mungkin agama-agama yang konsep ketuhanannya jelas berbeda bisa melebur jadi satu. Suatu hal yang mustahil dan tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Sebagai kesimpulan dari paparan di atas, bahwa perayaan Natal sarat akan doktrin pluralisme. Paham ini bertujuan untuk menyamakan seluruh agama. Apapun agamanya tidak berhak mengatakan bahwa agamanya yang paling benar dan jika ingin hidup damai hormatilah kepercayaan orang lain dengan cara mempercayai keyakinan mereka sama benarnya.
Untuk itu, sudah sepatutnya umat Islam memahami hal ini dan terus berusaha membendung doktrin-doktrin pluralisme seperti halnya ikut-ikutan dalam merayakan hari Natal yang seharusnya tidak dilakukan oleh umat Islam.
Tolerannya Nabi
Sebagai penutup, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”
Alkisah, setelah wafatnya Rasulullah Salallahu “Alaihi Wassalam, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi, yang biasa menyuapin si pengemis Yahudi buta tersebut.
Suatu hari, sahabat Rasulullah yakni Abubakar Radhiallahu Anhu berkunjung ke rumah anaknya Siti Aisyah (isteri Rasulullah) dan bertanya tentang kebiasaan Nabi belum ia kerjakan.
Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abu bakar RA. Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana, “ kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk disuapkan si pengemis Yahudi yang buta. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”, Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Shallalu “Alaihi Wassalam.
Pengemis Yahudi buta itu terkaget-kaget, sebab selama itu orang yang difitnah, diumpat dan dicaci itu tak lain Muhammad yang mulia, yang setiap pagi menyuapinya dengan sabar. Setelah peristiwa itu, sang Yahudi buta akhirnya bersyahadat dan menjadi Muslim.
Banyak orang seolah sudah pintar, seolah ingin mengajari “toleransi” melebihi hebatnya Nabi kita bertoleransi. Rasulullah yang mulia begitu hebat memperlakukan Yahudi melebihi kita, namun tetap saja tak mencampurkan akidah dan menganggap semua agama sama. Wa’Allahu a’lam bi as-Showab.*
Penulis adalah alumni Institut Studi Islam Darussalam ISID Gontor Ponorogo
Read More ..
Friday, 25 November 2011
Salibis Menikam Umat Islam Bogor (2): "Mereka Akan Membangun Gereja Terbesar Se-Asia Tenggara"
Politis, penuh intrik, dan konspiratif. Ketiga kata itu tampaknya pas dilekatkan saat kita membaca sengketa Gereja Kristen Indonesia (GKI)Yasmin. Konflik antara pihak Gereja dengan Masyarakat Muslim Bogor bukanlah hanya perkara sebuah bangunan peribadatan Kristen, namun ada misi untuk menjadikan Bogor sebagai basis Kristenisasi.
“Kenapa mereka ngotot tetap membangun GKI, karena ada 200 gereja lainnya yang siap untuk didirikan jika proyek GKI ini berhasil. Mereka sudah menyiapkan lahan-lahan di Bogor,” kata Ustadz Khoirunnas, Ketua FUI Bogor, kepada Eramuslim.com.
Ustadz Khoirunnas/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Ustadz Khoirunnas/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Program Kristenisasi di dataran Asia memang bukan mimpi kosong. Setidaknya hal pernyataan itu pernah dikeluarkan oleh Paus Johannes Paulus II. Akhir tahun 1999, Paus Johannes Paulus II telah mendeklarasikan Kristenisasi di seluruh daratan Asia di Millenium ke tiga ini. Deklarasi tersebut disampaikannya secara terbuka saat ia berkunjung ke India sekitar akhir November 1999 lalu. Ia mengatakan bahwa pada Millenium ketiga nanti, seluruh kawasan Asia harus dikristenkan. Berita ini membuat Mr. Singhal (Presiden Parisada Hindu Dunia) meminta agar pemerintah India melarang aliran dana asing ke pada para misionaris di India.
Maka tak heran, baru-baru ini kelompok Kristen dari berbagai negara menyelenggarakan hajatan besar-besaran di Sentul International Convention Center di Bogor. Dengan mengambil tema “Serving A Movement Empowering A Generation”, sekitar 14.000 orang dari 49 Negara berkumpul untuk menjawab "kelaparan rohani" bangsa Asia.
“Ini adalah pertemuan terbesar yang dihadiri oleh orang Kristen China di luar China,” demikian ungkap Dennis Balcombe, Pendeta Revival Chinese Ministries International di Hong Kong dikutip situs Kristen Jawaban.com dan Kabar Gereja.
Menurut, Ustadz Ahmad Iman selaku ketua Forum Komunikasi Muslim Indonesia (FORKAMI), sebenarnya berdirinya GKI Yasmin hanyalah pindahan dari proyek pendirian Gereja terbesar di Asia Tenggara yang semula direncanakan berdiri di Cikeuting, Bekasi. Disinyalir ada tiga orang tokoh politik dari PDIP berada dibalik permainan ini.
“Mereka ini adalah yang dulunya punya rencana besar mendirikan gereja terbesar di Asia Tenggara. Maka karena proyek itu gagal di Cikeuting, maka skenario berikutnya dipindahkan ke Yasmin,” tandas pria yang juga pengusaha ini kepada Eramuslim.com
Ustadz Ahmad Iman/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Ustadz Ahmad Iman/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Forkami sendiri adalah kumpulan warga Curug Mekar, Wangkal dan Perumahan Taman Yasmin yang merasa dirugikan dari aksi pemalsuan tanda tangan persetujuan warga oleh pihak Gereja. Forkami berdiri untuk mengawal kinerja aparat yang bertugas mengurus rakyat khususnya dalam kasus GKI Taman Yasmin Bogor, agar bekerja dengan baik jujur dan amanah.
Dalam aksinya selama ini Forkami tidak pernah menggunakan kekerasan dalam metodenya. Terbukti, tidak pernah ada kerusuhan dalam kasus sengketa gereja seperti di daerah lain. Mereka mengerti betul, bahwa permasalahan rencana pendirian gereja di wilayahnya, hanyalah masalah manipulasi. Maka, bagi mereka tidak sepantasnyalah Umat Islam harus mengotori tangannya dengan kekerasan.
Grand design itu memang terlihat jelas dari kengototan pihak gereja selama ini. Meski warga sudah menolak, mereka pantang menyerah. Sejak tahun 2002 sampai tahun 2006, pihak panitia pembangunan Gereja sudah berkali-kali menemui ketua RT setempat untuk meminta izin pembangunan Gereja (kurang lebih 5 Kali kunjungan), namun selalu ditolak dengan alasan bahwa mayoritas masyarakat di wilayah setempat adalah Muslim.
“Dari 33 KK, 30 KK menolak yaitu masyarakat muslim. 3 KK abstain. Dan surat penolakan itu dikumpulkan dan diserahkan ke lurah,” tandas Ustadz Ahmad Iman.
Sebenarnya agak tidak masuk akal sebagai sebuah lahan gereja yang hanya seluas 1702 meter persegi, GKI Yasmin digadang-gadangkan sebagai Gereja terbesar se Asia Tenggara, namun Ustadz Ahmad Iman berpendapat lain. Kalau kita pernah berkunjung ke Bogor, komplek Yasmin adalah sebuah lahan luas yang terdiri dari berbagai macam gedung. Tak jauh dari GKI Yasmin ada Rumah Sakit Hermina, Sebuah Toko Motor, Rumah Makan, dan Kantor Pemasaran.
“Itu semua sudah dikuasai oleh mereka. Jadi yang dulunya hanya 1702 meter persegi, sekarang besarnya bisa 6-10 kali lipatnya,” ujarnya. (Pz/bersambung)eramuslim.com
Read More ..
“Kenapa mereka ngotot tetap membangun GKI, karena ada 200 gereja lainnya yang siap untuk didirikan jika proyek GKI ini berhasil. Mereka sudah menyiapkan lahan-lahan di Bogor,” kata Ustadz Khoirunnas, Ketua FUI Bogor, kepada Eramuslim.com.
Ustadz Khoirunnas/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Ustadz Khoirunnas/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Program Kristenisasi di dataran Asia memang bukan mimpi kosong. Setidaknya hal pernyataan itu pernah dikeluarkan oleh Paus Johannes Paulus II. Akhir tahun 1999, Paus Johannes Paulus II telah mendeklarasikan Kristenisasi di seluruh daratan Asia di Millenium ke tiga ini. Deklarasi tersebut disampaikannya secara terbuka saat ia berkunjung ke India sekitar akhir November 1999 lalu. Ia mengatakan bahwa pada Millenium ketiga nanti, seluruh kawasan Asia harus dikristenkan. Berita ini membuat Mr. Singhal (Presiden Parisada Hindu Dunia) meminta agar pemerintah India melarang aliran dana asing ke pada para misionaris di India.
Maka tak heran, baru-baru ini kelompok Kristen dari berbagai negara menyelenggarakan hajatan besar-besaran di Sentul International Convention Center di Bogor. Dengan mengambil tema “Serving A Movement Empowering A Generation”, sekitar 14.000 orang dari 49 Negara berkumpul untuk menjawab "kelaparan rohani" bangsa Asia.
“Ini adalah pertemuan terbesar yang dihadiri oleh orang Kristen China di luar China,” demikian ungkap Dennis Balcombe, Pendeta Revival Chinese Ministries International di Hong Kong dikutip situs Kristen Jawaban.com dan Kabar Gereja.
Menurut, Ustadz Ahmad Iman selaku ketua Forum Komunikasi Muslim Indonesia (FORKAMI), sebenarnya berdirinya GKI Yasmin hanyalah pindahan dari proyek pendirian Gereja terbesar di Asia Tenggara yang semula direncanakan berdiri di Cikeuting, Bekasi. Disinyalir ada tiga orang tokoh politik dari PDIP berada dibalik permainan ini.
“Mereka ini adalah yang dulunya punya rencana besar mendirikan gereja terbesar di Asia Tenggara. Maka karena proyek itu gagal di Cikeuting, maka skenario berikutnya dipindahkan ke Yasmin,” tandas pria yang juga pengusaha ini kepada Eramuslim.com
Ustadz Ahmad Iman/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Ustadz Ahmad Iman/Foto Zakir Salmun Eramuslim
Forkami sendiri adalah kumpulan warga Curug Mekar, Wangkal dan Perumahan Taman Yasmin yang merasa dirugikan dari aksi pemalsuan tanda tangan persetujuan warga oleh pihak Gereja. Forkami berdiri untuk mengawal kinerja aparat yang bertugas mengurus rakyat khususnya dalam kasus GKI Taman Yasmin Bogor, agar bekerja dengan baik jujur dan amanah.
Dalam aksinya selama ini Forkami tidak pernah menggunakan kekerasan dalam metodenya. Terbukti, tidak pernah ada kerusuhan dalam kasus sengketa gereja seperti di daerah lain. Mereka mengerti betul, bahwa permasalahan rencana pendirian gereja di wilayahnya, hanyalah masalah manipulasi. Maka, bagi mereka tidak sepantasnyalah Umat Islam harus mengotori tangannya dengan kekerasan.
Grand design itu memang terlihat jelas dari kengototan pihak gereja selama ini. Meski warga sudah menolak, mereka pantang menyerah. Sejak tahun 2002 sampai tahun 2006, pihak panitia pembangunan Gereja sudah berkali-kali menemui ketua RT setempat untuk meminta izin pembangunan Gereja (kurang lebih 5 Kali kunjungan), namun selalu ditolak dengan alasan bahwa mayoritas masyarakat di wilayah setempat adalah Muslim.
“Dari 33 KK, 30 KK menolak yaitu masyarakat muslim. 3 KK abstain. Dan surat penolakan itu dikumpulkan dan diserahkan ke lurah,” tandas Ustadz Ahmad Iman.
Sebenarnya agak tidak masuk akal sebagai sebuah lahan gereja yang hanya seluas 1702 meter persegi, GKI Yasmin digadang-gadangkan sebagai Gereja terbesar se Asia Tenggara, namun Ustadz Ahmad Iman berpendapat lain. Kalau kita pernah berkunjung ke Bogor, komplek Yasmin adalah sebuah lahan luas yang terdiri dari berbagai macam gedung. Tak jauh dari GKI Yasmin ada Rumah Sakit Hermina, Sebuah Toko Motor, Rumah Makan, dan Kantor Pemasaran.
“Itu semua sudah dikuasai oleh mereka. Jadi yang dulunya hanya 1702 meter persegi, sekarang besarnya bisa 6-10 kali lipatnya,” ujarnya. (Pz/bersambung)eramuslim.com
Read More ..
Subscribe to:
Posts (Atom)

