OMAY menerima alasan Lina. Ia tetap bersabar menunggu waktu yang paling tepat. Pikirnya, untuk sementara ini ia lebih fokus dalam pekerjaan dulu. Karena untuk menuju perkawinan diperlukan persiapan yang matang. Perkawinan bukanlah hal main-main, namun diperlukan keseriusan di kedua belah pihak dan tidak ada keterpaksaan. Menurutnya, ketika sudah waktunya, jodoh tidak akan lari ke mana. Bagaimanakah kelanjutan kisah Omay dan sang pujaannya? Gana Hendrik mengisahkan.
BEGITU sibuknya bekerja, Omay hampir dua bulan tidak bertemu dengan sang pujaan hati. Rasa kangen semakin menggebu dalam dada, namun apalah daya, ia lagi sibuk dalam kegiatan tur show keliling Sumatra bersama artis ibu kota dan grup band asuhannya. Sebagian honorarium dari hasil kerjanya, Omay selalu menyempatkan mengirim uang ke rekening milik Lina. Dihitung-hitung memang sudah cukup banyak terkumpul, ini merupakan sebagai rasa cintanya terhadap Lina.
Sudah sekian lama tidak bersua, akhirnya Omay sepulang dari Sumatra langsung menemui Lina di rumah kontrakannya di Cililin. Namun apa yang didapat? Ia sedikit kecewa. Perempuan yang ia rindukan dan cintai, tidak ada dirumah. Saat Omay membuka pintu rumah kontrakan Lina, terlihat seorang laki-laki berkumis sedang duduk santai di ruang depan.
Ada perasaan tidak enak bagi Omay, tiba-tiba ada seseorang yang tidak dikenal di dalam rumah tersebut. Biasanya Lina cuma berdua dengan putrinya yang masih kecil. Sekali-kali menjadi bertiga bersama Omay.
Saat ditanyakan kepada laki-laki tersebut, Lina sedang pergi ke Cirebon mengantar ibunya untuk menemui saudaranya yang sedang hajatan kawinan. "Pulangnya sekitar besok lusa," jawab laki-laki tersebut dengan ramah. Beberapa saat kemudian, Omay pun pamit pulang diiringi perasaan kecewa.
Sebelum menuju jalan raya, ia mampir dulu ke warung depan rumah untuk beli rokok. Karena sudah kenal dekat, pemilik warung bercerita kepada Omay, bahwa Lina di rumah kontrakannya selalu didatangi tamu laki-laki, bahkan hampir tiap hari. "Bang Omay ke mana saja selama dua bulan ini?" tanya pemilik warung sambil menyodorkan uang kembaliannya.
"Biasa, lagi kuli, Ceu," jawab Omay.
Beberapa hari kemudian, Omay kembali menemui Lina membawa perasaan bahagia dan kangen. Namun di balik itu, ia sekaligus ingin menanyakan perihal laki-laki yang berada di rumah kontrakan Lina, beberapa waktu yang lalu. Omay merasa penasaran, sebenarnya siapa laki-laki itu? Meskipun ada sedikit kecurigaan, tapi ia tidak mau sembarang menuduh. Takut-takut salah nantinya.
Omay melepaskan rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu, bercengkrama dalam keceriaan. Lina tampak semakin mesra dan manja, tangannya merangkul pinggang Omay. Di tengah-tengah kemesraan, tiba-tiba Omay menanyakan laki-laki tersebut kepada Lina dengan penuh hati-hati. Ia takut terjadi salah pengertian. Memang benar, Lina langsung cemberut dan menangis ketika mendengar pertanyaan tersebut. "Mas Omay menuduh yang bukan-bukan ya, ke Lina? Itu Mas Jono, kakak sepupu Lina dari Cirebon. Lina enggak mungkin bohong. Mas sudah begitu baik ke Lina," jawabnya dengan wajah cemberut. (bersambung)** klik-galamedia.com
Monday, 11 January 2010
Awal Percintaan itu Bermula dari Minibus (3) Cinta Suci Omay Dibalas Kebohongan Lina
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment