Friday, 11 December 2009

Terbius Bujuk Rayu Setan (8) Setelah Bangkrut, Aku Terpaksa Berjualan Bakso

http://klik-galamedia.com

RENCANA pulang ke Depok terpaksa dibatalkan. Aku singgah dulu di Cirebon ingin menemui keluarga Pak Guru. Sekalian menanyakan kabar keluargaku di Depok pada istrinya. Ia pasti tahu karena dulu pernah main ke rumahku. Bagaimanakah nasib Abun selengkapnya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.

SESAMPAI di rumah Pak Guru, ia langsung mememelukku sambil menangis. Begitu juga istrinya, ikut menangis. "Alhamdulillah Bapak selamat!" katanya sambil menyilakanku duduk di ruang tamu.

Aku tak mampu menyampaikan apa yang telah aku alami selama ini. Lagipula Pak Guru pun tak ingin mendengarnya karena hanya akan menambah sakit hatinya. Dulu ia juga korban penipuan si kakek yang mengiming-iminginya uang miliaran rupiah.

"Sudahlah, kita hanya korban. Tak perlu melakukan apa-apa, percuma. Apalagi melapor ke pihak berwajib. Anggap saja apa yang kita alami sebagai ujian keimanan. Kita ini makhluk durhaka, yang harus segera tobat pada Yang Mahakuasa," katanya. Pak Guru mengaku dirinya harus menanggung utang. Semua harta miliknya, termasuk peralatan rumah tangga, ludes dipakai untuk membayar utang. Di rumahnya kini hanya tersisa tikar sebagai alas tidur.

"Beruntung saya dan istri pegawai negeri, sehingga utang yang mencapai Rp 100 juta bisa tertutupi, karena mendapat pinjaman lunak dari bank dengan waktu cicilan selama sepuluh tahun. Setiap bulannya gaji kami hanya cukup untuk makan," paparnya.

Istri Pak Guru lalu menceritakan bagaimana keluargaku hancur berantakan setelah kutinggal pergi. Rumah, tanah, dan dua mobil milikku disita perusahaan. Sementara istri dan kedua anakku tinggal di rumah orangtuanya. Aku sedih mendengarnya tapi bersyukur karena keluargaku masih sehat.

Tapi aku sadar tak akan sanggup menemui keluargaku. Aku tak tahan mendengar penderitaan pahit yang harus mereka alami. Untuk itu aku memohon kerelaan keluarga Pak Guru untuk menerimaku.

"Tidak apa-apa Pak, kami ikhlas. Kita hidup bersama dalam penderitaan setelah tertipu si kakek tua bangka itu. Mari kita bertobat meminta ampunan dan pertolongan Tuhan," kata istri Pak Guru yang baik hati itu.

Selama tinggal di sana aku berjualan apa saja untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Dulu pun aku miskin, tapi setelah bekerja keras aku bisa hidup berkecukupan. Punya rumah, tanah, dan mobil mewah. Hanya saja aku tak tahan godaan dan tak menuruti saran istri.

Selama hampir tiga tahun tinggal di rumah Pak Guru, aku berjualan bakso. Modalnya mengandalkan uang sisa pemberian Alex. Selama berada di Cirebon, baru satu kali aku menemui istri dan kedua anakku. Akhirnya istriku minta cerai dan aku memahami keinginannya. Aku memang telah melakukan kesalahan besar.

Pernah kutanyakan tentang rumah, tanah, dan kendaraan yang disita perusahaan, tapi istriku sama sekali tak memberi jawaban. Kata si sulung, istriku mendapat uang pengembalian sebesar Rp 250 juta. Uang uang tersebut dibelikan rumah dan sekarang rumahnya dikontrakkan. Aku tidak mempermasalahkannya. Aku sadar semua karena kesalahanku yang tergoda rayuan setan hingga rumah tanggaku hancur berantakan. (tamat)**

0 comments:

Post a Comment