Thursday, 10 December 2009

Terbius Bujuk Rayu Setan (7) Ritual Ternyata Bohong, Aku Tertipu Mentah-mentah

"BAGAIMANA keputusan Anda, siap atau tidak?" tanya si kakek. Aku katakan lebih baik batalkan saja daripada nyawa anakku melayang. Tapi si kakek marah, "Buat apa Anda mengorbankan uang miliaran rupiah, kalau sekarang lantas dibatalkan? Percuma!" Bagaimanakah kelanjutannya? H. Undang Sunaryo mengisahkannya.

DULU aku pernah bertanya, apakah ilmu Nabi Sulaeman yang bisa menggandakan uang itu harus dibayar dengan tumbal nyawa? Jawaban si kakek, tidak. Namun nyatanya, setelah uang ratusan juta diserahkan, aku harus melakukan pertapaan yang amat berat di gua yang menyeramkan. Anakku pun harus dijadikan tumbal.

"Tidaaak...!" aku menjerit histeris.

"Kalau begitu, berarti Anda gagal memperoleh uang miliaran untuk termin pertama!" kata si kakek.

"Tidak apa-apa. Pertapaan aku batalkan sekarang juga. Dan saya mohon, kembalikan uang yang sudah saya serahkan!"

"Maaf, uang tersebut sudah habis untuk membeli segala keperluan persyaratan Anda. Sebaliknya, saya minta ganti rugi karena Anda telah membatalkan segalanya," kata si Kakek.

"Pokoknya kembalikan saya! Bila tidak, saya akan laporkan Anda ke pihak berwajib!" ancamku.

"Silakan. Mana ada petugas yang berani menangkap saya. Bila Anda memaksa uang kembali, Anda akan kualat. Anda akan gila. Pergi!" Si kakek mengusirku dari gua.

Aku pun berjalan menyusuri jalan setapak menuju jalan raya. Di belakang seseorang membuntuti. Ketika kulihat, ternyata orang itu Alex, yang setia pada si kakek. Ia memintaku berhenti. Ada apa lagi?

"Kasihan Bapak. Bapak jadi korban penipuan. Sama seperti saya. Hanya saja saya tidak menyerahkan uang sebanyak Bapak, hanya jutaan. Tapi sudah hampir setahun tak juga membuahkan hasil. Saya diminta mendampingi si kakek hingga bisa mendapatkan uang banyak," katanya.

Alex mengaku siap mengorbankan anak kesayangannya. Makanya ia tetap melakukan pertapaan dan akan tinggal selama seminggu di gua sambil menanti datangnya uang miliaran. Dia menasihatiku agar tabah menerima risiko seberat itu. Tapi, katanya, bagus juga aku masih punya iman dan mampu membatalkan niat gila itu. Aku masih punya nurani dan menyayangi buah hatiku di rumah.

"Tolong sampaikan pada si kakek, saya akan melaporkan persoalan ini ke pihak berwajib. Tunggu tanggal mainnya, dia akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara," ancamku.

"Percuma, Pak! Sudahlah, jangan dipersoalkan. Anggap saja pengalaman ini sebagai pil pahit bagi Bapak," katanya. Ia lalu memberiku lembaran uang senilai Rp 2 juta. Katanya uang tersebut pemberian si kakek untuk sekadar ongkos pulang ke Depok.

Dari Terminal Purwokerto, aku naik bus jurusan Jakarta. Selama perjalanan pikiranku tak karuan. Bukan hanya memikirkan uang miliaran, tapi juga bagaimana nasib keluargaku di rumah setelah lama aku tinggalkan tanpa kabar berita. Tentu mereka menghadapi masalah. Belum lagi pihak perusahan yang mengambil tindakan tegas karena aku mangkir dari tugasku. (bersambung)**

0 comments:

Post a Comment