Tuesday, 4 August 2009

Rendah, Minat Lulusan Melanjutkan ke Pontren

LOSARANG – Prosentasi siswa lulusan SD maupun SLTP yang melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren (Pontren) terus menurun setiap tahunnya. Hal ini disebabkan kecenderungan rendahnya peminat, baik dari siswa itu sendiri maupun orang tua murid.
Di Kecamatan Losarang misalnya, berdasarkan data tahun pelajaran 2008/2009 dari UPTD Pendidikan setempat, siswa di 34 SD yang lulus 100 persen, jumlahnya sebanyak 1.045 murid. Namun hanya dua orang siswa yang melanjutkan ke pontren.

Lulusan SD, kebanyakan memilih sekolah umum baik negeri maupun swasta. Ada juga yang melanjutkan pendidikan ke sekolah agama seperti ke MTs. Demikian juga bagi lulusan SLTP. Data serupa juga tercantum di UPTD Pendidikan Kecamatan Kandanghaur dan Anjatan. Jumlah lulusan SD yang lanjut ke pontren masih di bawah 2 persen.
Menurut alumnus Pontren Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, KH Drs H Amin Bay MAg, menurunnya peminat diperkirakan karena beberapa sebab. Diantaranya, orang tua murid berasumsi bahwa menyekolahkan anak ke pontren memerlukan biaya mahal. Karena harus membayar uang makan dan asrama.
“Padahal tidak seperti itu. Malah mungkin jauh lebih murah dibanding sekolah umum yang siswanya sendiri makan di rumah,” ungkapnya.
Kemudian, orang tua murid masih beranggapan bahwa lulusan pontren tidak bisa diterima kerja, karena tidak masuk dalam kualifikasi pendidikan berbasis usaha atau industri. “Malah ada yang beranggapan, sekolah di pontren sudah ketinggalan zaman,” ujarnya.
Ada juga yang beralasan agar anaknya lebih mudah dipantau, sehingga memilih sekolah di tempat terdekat. Terlebih, keberadaan pontren jarang terdapat di Kabupaten Indramayu. “Di beberapa pontren, pendidikannya sudah lebih modern. Ada sekolah kejuruan, keterampilan dan lulusannya dibekali ilmu agama yang mantap,” terang Amin Bay yang juga menjabat Kepala KUA Kecamatan Lohbener.
Hal lain yang cukup mempengaruhi adalah keberpihakan pemerintah memberikan biaya pendidikan gratis bagi siswa yang melanjutkan ke sekolah umum. “Ditambah lagi di sekolah umum juga memberlakukan pendidikan keagamaan secara intensif, tidak kalah dengan sekolah madrasah,” tandas Amin. (kho)

0 comments:

Post a Comment