Liburan atau cuti bagi perantau terutama perantau dari luar negeri merupakan sesuatu yang special karena disamping bersilaturahmi dengan family, kita juga bisa melepaskan lelah/kejenuhan setelah sekian lama kita bekerja dengan berbagai macam stressor selama bekerja.
Dalam catatan liburan ini, saya tidak akan berbicara mengenai financial atau keuangan berapa banyak uang dihabiskan, karena saya yakin teman-teman kita yang cuti atau pulang kampung dari luar negeri pasti akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit atau kata orang bilang kalau sedang cuti uangnya pasti mengalir ke sana kemari bak air sungai…hehehe…..tapi hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan masalah financial.
Tanggal 18 Juni 2010
Tepat jam 2.30 siang WIB pesawat Etihad Airways mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta…wah cape juga setelah duduk berjam-jam di pesawat. Setelah mengambil bagasi kami langsung keluar menuju pintu keluar. Saat kami mau keluar, seorang petugas imigrasi mendekati kami dan menanyakan paspor terutama paspor pembantu kami. Dalam hati saya pasti pembantu saya tidak boleh keluar bersama-sama karena paspornya masih menggunakan paspor yang dikeluarkan dari diklat tenaga kerja, betul juga dugaan saya pembantu saya harus keluar lewat terminal 3. Saya coba menjelaskan kepada petugas tersebut karena pembantu saya masih keluarga saya dan beliau menyarankan saya untuk menemui Pak Ramli. Beruntung setelah saya bertemu dan berbicara dengan Pak Ramli, pembantu saya bisa pulang bersama kami, tentunya setelah Pak Ramli mengecek kebeneran dari paspor dan menanyakan langsung ke pembantu saya. Saya sangat berterima kasih sekali kepada pak Ramli, saya mengerti apa yang dilakukan oleh petugas adalah untuk keselamatan dan keamanan pembantu saya untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Pelayanan SIM di Polres Indramayu
Tanggal 26 Juni 2010 saya datang ke Polres Indramayu untuk memperpanjang SIM A karena SIM A saya sudah kadaluarsa sejak 3 bulan lalu. Begitu sampai di Polres pulahan orang sudah mengantri untuk mengurus SIM baik SIM A ataupun SIM C. Di bagian pelayanan SIM terbentang tulisan NO CALO….saya coba perhatikan apa betul apa yang tertulis di spanduk pengumuman. Wah ternyata betul juga NO CALO…tak ada satu orang pun atau oknum menawarkan jasa pembuatan SIM. Tidak seperti zaman dulu, begitu kita datang ke Polres, oknum dan malekar SIM siap menyambut kita, sekarang no way…anda tinggal datang sendiri dan antri. Jadi bagi anda yang ingin bikin SIM jangan takut kena calo atau makelar karena intel pusat sudah standby di sana tanpa diketahui oleh siapa pun.
GAYA HIDUP
Keberadaan mini market maupun super market di kota maupun di desa sudah menjamur dan mengikis keberadaan warung atau usaha kecil rakyat. Dengan keberadaan mini market atau super market memaksa kita untuk mengubah gaya hidup kita kearah gaya hidup yang konsumtif alias boros. Coba anda tanya dari anak kecil hingga kakek-kakek ke mana mereka pergi jika ingin membeli sesuatu ? Umumnya mereka akan menjawab Alfa Mart. Jarang mereka pergi ke warung, untuk sekedar membeli indomie mereka datang ke mini market.
KRISIS MONETER ?
Sejak tahun 1998 nilai rupiah turun tajam dan memaksa harga baik kebutuhan pokok maupun barang-barang lainnya melambung tinggi alias mahal. Bayangkan dengan uang 1 juta apa yang anda dapat..? Nothing….Tapi ada sesuatu yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat. Meskipun krisis moneter belum pulih dan harga barang terus naik, tapi hampir semua warga memiliki sepeda motor, begitu juga mobil. Ketika saya datang ke show room Daihatsu di Cirebon, begitu banyak orang yang ngantri untuk membeli mobil, entah itu melalui kredit atau cash, yang jelas show room mobil bukan sesuatu yang istimewa lagi. Di jalan-jalan utama di kota Indramayu maupun di desa-desa yang ada di wilayah Indramayu, mobil-mobil baru terutama Avanza, Xenia, Terios dan Rush sudah menjadi pemandangan umum. Di manakah letak krisis moneter….?
PERUBAHAN KULTURAL
Modernisasi memiliki dampak yang positif dan negatif. Dampak positif salah satunya adalah sistem komunikasi yang semakin canggih. Dengan adanya teknologi canggih kita bisa berkomunikasi tatap muka langsung (video chatting) baik melalui handphone atau internet. Begitu juga informasi manca negara bisa kita akses dengan mudah. Di sisi lain dampak dari modernisasi adalah pergeseran nilai sosiokultural. Jika kita perhatikan dari zaman ke zaman, masyarakat Indonesia sudah mengalami pergeseran budaya. Pada saat ini generasi sekarang pada umumnya lebih suka mengadopsi nilai-nilai sosiokultural barat dan cenderung meninggalkan sosiokultural Indonesia. Hal ini dikarenakan arus informasi dan teknologi yang sangat pesat dan rapuhnya filter kehidupan. Pergaulan bebas dan hura-hura sudah menjadi pemandangan yang biasa. Jadi zaman sekarang istilah tabu sudah luntur.
Sekarang terserah kita bagaimana mengantisipasi arus kehidupan yang semakin kompleks. Apakah kita akan mengikuti arus kehidupan tanpa mempertahankan filter agama dan sosiokultural, kita kembalikan kepada diri kita masing-masing.
Saturday, 24 July 2010
CATATAN LIBURAN
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment