Wednesday, 9 December 2009

Terbius Bujuk Rayu Setan (5) Rumah dan Mobil Disita Saat Menjalankan Ritual

SEBELUM meninggalkan rumah, istriku marah-marah. Dia tidak menyetujui kepergianku untuk melakukan ritual ajian si kakek. Ia bahkan mengancam minta cerai bila aku nekat tergiur uang miliaran. Istriku marah karena ia pernah kedatangan istri Pak Guru dari Cirebon yang mengaku sengsara akibat tergiur rayuan si kakek tua itu.

"Mamah jangan terpengaruh istri Pak Guru. Tunggu saja, dalam waktu dekat papah akan mendapatkan uang miliaran. Doakan semoga papah selamat," kataku. Aku lalu nekat pergi bersama Alex ke tempat yang ditunjukkan si kakek.

Dua hari setelah kepergianku, Lely (bukan nama sebenarnya), istriku banyak menerima tamu rekanan kerjaku. Mereka menanyakanku karena hampir sebulan tak pernah masuk kerja. Kemudian datang tamu lainnya yang juga memberi kabar buruk. Mereka melaporkanku telah melakukan perbuatan tak terpuji. Tanpa seizin pimpinan, mengambil uang milik perusahaan sebesar Rp 700 juta.

"Kami mohon ibu segera menyampaikan kabar ini. Semoga bapak bisa segera datang ke kantor untuk menyelesaikan semua persoalan. Bila tidak, nanti akan bermasalah. Ancamannya selain dikeluarkan secara tidak hormat, bapak juga akan berurusan dengan pihak berwajib," begitu kata rekan sekantorku.

Istriku kaget dan tak bisa berbuat apa-apa, kecuali mengatakan kepada para tamu itu bahwa selama ini aku tengah berbisnis dengan temanku Alex. Rencananya bila bisnis ini berhasil, aku akan ikut andil sebagai pemilik saham. Perusahaan yang selama ini menjadi tempat kerjaku pun akan maju pesat dengan suntikan modal yang lumayan besar.

Tapi sekian lama ditunggu, aku tak pulang-pulang. Lely pun kesulitan mencariku. Karena memang ketika aku pergi, ia tak memberi restu. Aku nekat saja. Sekali pernah istriku mengunjungi rumah Alex, ternyata keadaan keluarga mereka lebih parah lagi. Akibat ulah Alex, istrinya akan minta cerai.

Sementara pihak perusahan terus mendatangi rumah hingga akhirnya kesabaran mereka pun habis. Untuk itu sertifikat rumah dan tanah milikku disita sebagai bukti jaminan. Lely tak mampu berbuat apa-apa karena jelas-jelas aku berani mengambil uang milik perusahaan.

Dua bulan aku tak juga pulang. Istri dan kedua anakku mulai kehilangan kesabaran. Terdorong desakan pihak perusahaan yang selalu menuntut agar uang yang diambil segera dikembalikan, tak ada jalan lain, istriku pun menyerahkan semua harta yang ada kepada pihak perusahaan. Dua mobil mewah, termasuk surat-suratnya disita. Adapun penyelesaiannya menunggu kepulanganku. (bersambung)**

0 comments:

Post a Comment