Musisi Setar Kolaborasi Tarlingan
CIREBON - Pernah membayangkan, musik tarling berkolaborasi dengan alunan alat musik asli Iran, setar, yang mengiringi lagu berasal dari sebuah puisi?
Tadi malam (9/7), publik kesenian Cirebon kedatangan dua musisi kewarganegaraan Amerika Serikat, Eyvind Kang (38) dan Jesica Kenney (33). Mereka tampil di Gedung Kesenian Rarasantang, difasilitasi oleh yayasan Dewan Kesenian Cirebon (DKC).
Eyvind dan Jesica, hadir dalam rangkaian tur seni-budaya mengunjungi beberapa kota di Indonesia. Sebelumnya mereka tampil di Jakarta, Bandung dan setelah dari Cirebon melanjutkan perjalanan ke Solo, Jogjakarta dan Bali.
Kepada Radar, Jesica mengaku sudah beberapa kali ke Indonesia, namun baru pertama kali ke Cirebon. Selama menempuh perjalanan dari Bandung ke Cirebon, menggunakan bus umum, Jesica mengungkapkan pemandangan daerah Jawa Barat cukup mengesankan.
“Pemandangannya sangat indah, banyak hutan di daerah perbukitan di Sumedang. Jawa Barat memang indah,” kata perempuan yang juga menguasai tembang Jawa dan Sunda itu.
Naik panggung sekitar pukul 22.00, Eyvind dan Jesica segera unjuk kebolehan. Eyvind memainkan setar, dan Jesica membawakan puisi berbahasa Persia yang dilagukan. Di sesi awal mereka membawakan tiga buah lagu, diantaranya bertemakan cinta sepasang kekasih yang berada dalam sebuah perahu berbeda.
Guna meramaikan suasana, dan memang telah dipersiapkan sejak awal, pasangan suami istri yang baru dua tahun menikah itu kemudian didaulat berkolaborasi dengan maestro tarling Cirebon, H Abdul Adjib.
Abdul Adjib membawakan tarlingan kiser Baridin Lan Ratmini, dan saling menimpali dengan lagu yang dibawakan Jesica. Tak pelak, riuh tepuk tangan pun disampaikan penonton yang terlihat menikmati pertunjukan lintas budaya tersebut.
Ketua DKC, Drs Ahmad Syubbanudin Alwy, menuturkan hadirnya Jesica dan Eyvind yang keturunan Korea ke pentas kesenian Cirebon, adalah sebagai upaya menghidupkan prosesi berkesenian di Cirebon, agar menjadi sesuatu yang sekunder dan primer.
“Ini bagian dari jejaring yang telah kami upayakan, dimana sudut pandang kebudayaan dan kesenian di Cirebon mesti dapat duduk bersama dengan kesenian dari tempat lain di belahan dunia. Kita mesti sama-sama saling belajar dan mengembangkan potensi yang ada,” ucapnya.
Kepada penonton, Jesica dan Eyvind, menjelaskan bisa menguasai alat musik dan bahasa, juga puisi berasal dari Iran setelah lama bertualang di negeri bangsa Persia tersebut, dengan berguru pada seorang ahli di sana.
“Kami ingin bertukar eksplorasi seni dan puisi yang kami pelajari, di tiap kantung kebudayaan yang kami singgahi, seperti di Cirebon ini,” ucap Jesica dengan bahasa Indonesia terbata-bata. (ron)
Tuesday, 14 July 2009
KESENIAN
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment